PM Netanyahu menegaskan Israel terus menggempur Iran hingga targetnya tercapai—meski Donald Trump mengklaim memulai negosiasi sepihak dengan Teheran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa keputusan mengakhiri perang sepenuhnya berada di tangan Israel, bukan Washington.
Pernyataan ini muncul merespons langkah mendadak Presiden Amerika Serikat Donald Kita, Donald Trump, yang mulai menempuh jalur diplomasi terpisah dengan Iran.
Ketegangan ini memuncak setelah Trump secara sepihak mengumumkan negosiasi dengan Teheran dan memerintahkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari.
Langkah Washington tersebut memicu penurunan harga minyak dunia hingga 11 persen, namun justru menciptakan keretakan nyata dalam aliansi erat AS-Israel.
Diplomasi Tanpa Konsultasi
Dalam pernyataan video pada Senin (23/3/2026), Netanyahu mengakui telah berbicara dengan Trump mengenai peluang kesepakatan yang melindungi kepentingan vital.
Namun, ia menekankan bahwa diplomasi tidak akan menghentikan mesin perang Pasukan Pertahanan Israel (IDF) selama target utama belum tercapai.
“Di saat yang sama, kami terus menyerang, baik di Iran maupun Lebanon. Kami secara metodis membongkar program rudal dan program nuklir, serta terus menghantam Hizbullah dengan keras,” tegas Netanyahu.
🚨 #BREAKINGNEWS Benjamin Netanyahu says it’s not US decision when this war ends. It’s when the IDF says this war ends. Benjamin Netanyahu on a world stage made Trump look small and powerless. 🚨 pic.twitter.com/8ww6zcFq8W
— Ford News (@FordJohnathan5) March 24, 2026
Pernyataan itu mengisyaratkan bahwa Israel menolak tunduk pada jadwal gencatan senjata yang diinginkan Gedung Putih.
Mantan Duta Besar Israel untuk AS, Alon Pinkas, menilai langkah Trump mengejutkan sekaligus mempermalukan Netanyahu. Menurutnya, Trump mungkin merasa “ditipu” terkait kecepatan kemenangan militer yang dijanjikan sebelumnya, sehingga kini mencari jalan keluar diplomatik secara mandiri.
Perbedaan Visi Kemenangan
Retaknya koordinasi ini berakar pada perbedaan fundamental mengenai definisi “kemenangan”. Washington kini lebih fokus pada stabilisasi kawasan dan melumpuhkan ancaman nuklir. Sebaliknya, Netanyahu secara eksplisit tetap mendorong agenda perubahan rezim di Teheran sebagai hasil akhir konflik.





