Dinamika PBNU memanas. Nama Nasaruddin Umar mencuat sebagai calon kuat Ketum PBNU, membawa angin segar sekaligus perdebatan baru.
Suksesi kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) selalu menyajikan dinamika yang menyedot perhatian publik. Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf atau yang akrab kita sapa Gus Ipul, baru-baru ini melempar sinyal kuat. Ia secara terbuka menyebut Menteri Agama Nasaruddin Umar memiliki kompetensi mumpuni untuk memimpin ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Endorsement ini langsung menghangatkan diskursus internal nahdliyin dan menandai fase baru dalam pencarian nakhoda PBNU berikutnya.
Hadir di Tengah Pusaran Pleno PBNU
Nasaruddin Umar sejatinya tidak pernah berjarak dari pusaran dinamika elite NU. Belum lama ini, ia turut menghadiri Rapat Pleno Syuriyah yang berujung pada penunjukan KH Zulfa Mustofa sebagai Penjabat (Pj) Ketua Umum PBNU. Keputusan pleno ini secara efektif melengserkan Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dari kursi kepemimpinan hingga Muktamar 2026 mendatang.
Kehadiran Nasaruddin di tengah memanasnya konflik internal tersebut murni dalam kapasitasnya sebagai Wakil Rais Syuriyah PBNU. Ia menaruh asa besar agar keputusan pleno mampu menjadi solusi dan jalan keluar bagi perpecahan yang mendera organisasi.
Sebagai pejabat negara, Nasaruddin juga menggaransi bahwa pemerintah menolak ikut campur urusan rumah tangga NU. Ia meyakini NU memiliki tingkat kedewasaan tinggi untuk merampungkan praharanya sendiri. Di sisi berlawanan, Gus Yahya menolak mentah-mentah hasil pleno itu. Ia menganggap manuver pelengserannya cacat hukum, melanggar AD/ART, dan sekadar manuver politis dari pihak yang menolak transformasi organisasi.
Merajut Silaturahmi Intens dengan Kiai Said Aqil
Menjelang suksesi, profil Nasaruddin Umar semakin berkibar lewat kedekatannya dengan tokoh-tokoh senior NU. Beberapa kali ia tampak akrab dan bertemu dengan mantan Ketum PBNU, KH Said Aqil Siradj, dalam berbagai forum strategis.
Pada pertengahan April 2026, Nasaruddin menerima langsung kunjungan Kiai Said bersama jajaran Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) di Masjid Istiqlal guna membahas pendirian lembaga zakat dan universitas Islam. Kedekatan ini terus berlanjut saat keduanya berdiri dalam satu panggung pada Temu Nasional Gerakan Pondok Pesantren Anti-Kekerasan Seksual garapan PKB pada pertengahan Mei.
Puncaknya, Nasaruddin hadir memukau memberikan orasi pada acara wisuda Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah asuhan Kiai Said pada akhir Mei 2026. Di hadapan para santri, ia memuji pesantren tersebut sebagai cikal bakal kebangkitan intelektual Islam Nusantara.
PWNU DKI: Layak, Tapi Ada Syaratnya
Mencuatnya nama Nasaruddin Umar memantik respons dari struktur wilayah. Ketua PWNU DKI Jakarta, KH Samsul Ma’arif, merespons positif gagasan Gus Ipul. Ia mengakui Nasaruddin sebagai salah satu putra terbaik NU yang memiliki rekam jejak mentereng. Dari sisi keilmuan dan pengalaman, Nasaruddin pernah menjabat sebagai Katib Aam PBNU—sebuah batu loncatan historis yang juga pernah diduduki Gus Yahya dan Kiai Said sebelum naik memimpin PBNU.
Kendati memuji kapabilitas sang menteri, Kiai Samsul memberikan catatan tegas. Ia mengingatkan agar menteri atau birokrat yang berniat maju dalam kontestasi Muktamar NU bersedia menanggalkan jabatannya di pemerintahan. Langkah ini sangat vital untuk menjaga muruah kementerian, mencegah penyalahgunaan kekuasaan, dan menghindari kesan intervensi istana.
“Jauh-jauh hari, dua atau tiga bulan sebelumnya, alangkah baiknya mengundurkan diri dari jabatan menteri kalau mau siap-siap nyalon,” tegas Kiai Samsul dikutip dari Republika, Senin (11/5/2026).. Ia berharap ruang kepemimpinan NU diserahkan kepada sosok yang independen dari lingkaran kekuasaan politik demi kebaikan organisasi.
Kontestasi kursi nomor satu di PBNU dipastikan akan terus bergulir dinamis. Sosok Nasaruddin Umar kini berdiri di persimpangan jalan yang strategis; antara menuntaskan pengabdiannya di kabinet atau menjawab panggilan sejarah untuk memimpin jam’iyah Nahdlatul Ulama. Pilihan apa pun yang ia ambil kelak, jutaan pasang mata warga nahdliyin akan terus mengawasi dan menanti gebrakan sang Imam Besar.***





