Menara Tanjung Datu, Mercusuar Terjauh Saksi Bisu Pasang-Surut Hubungan Diplomatik Indonesia-Malaysia

Mercusuar Tanjung Datu menjadi saksi pasang surut hubungan diplomatik antara Indonesia-Malaysia. Foto:Dephub
TANJUNG DATU — Indonesia dan Malaysia adalah negara serumpun. Dua negara ini memiliki kemiripan etnis, budaya, dan agama. Namun, hubungan diplomatik antara keduanya mengalami berbagai dinamika, pasang surut sepanjang sejarah, dari periode awal kemerdekaan hingga masa kini.

Meski negara serumpun, tak jarang terjadi konflik antara Indonesia-Malaysia–terutama di wilayah perbatasan. Salah satu saksi sejarah konflik perbatasan antara Indonesia-Malaysia adalah mercusuar Tanjung Datu. Konflik yang terjadi pada 2014. Mercusuar terjauh Indonesia ini berada di Kelurahan Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat.

Mercusuar Tanjung Datu. Foto:Dephub

Untuk menuju mercusuar terjauh ini dapat ditempuh lewat jalur darat atau udara. Jika lewat jalur darat, dibutuhkan waktu perjalanan lebih dari 14 jam dari Pontianak menyeberangi sungai Sambas dan Sungai Sumpit di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas.

Saat menyeberangi Sungai Sambas, penyeberang bisa memanfaatkan kapal ferry ASDP, namun saat menyeberangi Sungai Sumpit yang besarnya sama dengan Sungai Sambas, penyeberang harus menggunakan kapal rakit bermesin tempel yang dioperasikan secara swadaya oleh warga.

Bacaan Lainnya

Dilansir laman dephub.go.id, menara mercusuar ini mendadak jadi pembicaraan nasional pada 2014 silam. Pemerintah Malaysia tiba-tiba mendirikan mercusuar di lokasi di mana terletak menara mercusuar milik Indonesia. Alasannya, pemerintah Malaysia beranggapan sebagian besar wilayah kawasan Tanjung Datu secara geografis masuk wilayah Malaysia.

Pembangunan mercusuar Malaysia di wilayah NKRI itu diketahui kapal distrik navigasi Indonesia pada 16 Mei 2014. Pembangunan dilakukan kapal polisi maritim serta kapal angkatan laut. Tak urung hal ini menjadi isu nasional sehingga sempat mengakibatkan mengganggu kemesraan Indonesia-Malaysia.

Pemerintah Malaysia membantah jika pembangunan mercusuar tersebut masuk wilayah Indonesia. Kedua negara kemudian berunding dan meninjau wilayah yang diklaim sepihak itu. Ternyata, wilayah tanjung Datu berada di titik koordinat 02’05’.051′ Lintang Utara serta 109’38.760′ Bujur Timur, yang diplot di peta nomor 282K dikeluarkan oleh Dishitdros TNI AL tahun 2013 berada dalam wilayah perairan Indonesia dengan jarak 309 meter dari daratan. Saat ini sengketa sudah mereda, walau persoalannya belum benar-benar terselesaikan.

Namun demikian, akibat konflik tersebut, pemerintah Indonesia meningkatkan pengawasan di daerah ini. Pemerintah sudah membangun gerbang perbatasan di lintas batas antara Desa Temanjuk dan Teluk Melano Malaysia. Selain itu, di kawasan Kecamatan Paloh, pemerintah dan TNI juga mendirikan tugu Garuda Indonesia.

Konon, mercusuar Tanjung Datu yang kadang ditulis Tanjung Dato dibangun pada tahun 1885 semasa Raja Belanda Willem III. Menara mercusuar tersebut berfungsi sebagai rambu lalu lintas kapal di sekitar perairan Tanjung Datu dan Natuna Inlander (Kepulauan Natuna) yang juga berada di lingkup laut China Selatan. Di kawasan lalu lintas laut yang tidak begitu sibuk itu, banyak terhampar batu karang besar berbahaya.

Satu-satunya jalan menuju lokasi itu, hanya dapat dicapai dengan memakai transportasi laut mengitari ujung barat daya Pantai Temanjuk, menuju sisi barat daya semenanjung tersebut. Jika memakai kapal cepat dengan rata-rata kecepatan 20 knot, perjalanan ditempuh lebih kurang 30 menit.

Itu pun harus berjuang ekstra keras karena mesti melewati gelombang tinggi hasil pertemuan arus Laut Natuna Selatan dengan Laut Jawa. Jadi, jika air pasang hingga lebih kurang 4 meter, nyaris tidak ada penduduk atau nelayan Temanjuk yang mau berlayar ke sana.

Pos terkait