Kedua, dengan posisinya sebagai ketua umum Muslimat NU, secara rasional dan kultural Khofifah bisa dikatakan bukan “dewi penyelamat” bagi pasangan Prabowo-Gibran di sengitnya medan pertempuran (battlefield) di Jatim.
“Seandainya cawapres Prabowo itu Khofifah, mungkin bisa berdampak signifikan; tetapi kenyataannya, cawapres Prabowo itu Gibran, yang secara sosiologi politik masih menyisakan problem etika secara konstitusional dan menciptakan opini publik yang sangat kontroversial,” kata Iqbal.
Ketiga, gelaran pilpres ialah untuk memilih figur capres dan cawapres, sehingga kekuatan gagasan dan kapasitas karakter, manajemen kepemimpinan, serta keluwesan emosi menjadi faktor utama yang menjadi pertimbangan pemilih. Secanggih dan sehebat apa pun tim kampanye maupun tim sukses, menurut Iqbal, pada ujungnya tetap akan kembali pada kekuatan gagasan dan karakter capres dan cawapresnya.
Berdasarkan tiga faktor krusial itulah, secara sosial kultural, muslimat NU, baik di Jatim maupun nasional, sejatinya sudah tersebar kuat dan merata ke pasangan calon Anies-Muhaimin maupun Ganjar-Mahfud. Sehingga, kehadiran Khofifah dinilai tidak akan banyak mendongkrak elektabilitas Prabowo-Gibran.
“Khofifah bukanlah dewi penyelamat kandidat. Dia adalah tokoh NU dan pemimpin Jawa Timur yang secara personal kultural tetap sebagai santri, yang juga terikat ketakziman dan nilai-nilai taat kiai,” ucapnya.
Iqbal menjelaskan ketika para kiai sudah meneguhkan sikap dan pilihan politiknya pada pasangan Anies-Muhaimim atau Ganjar-Mahfud, maka sangat mungkin Khofifah tidak akan menjadi “dewi penyelamat” suara Prabowo-Gibran.
“Hal itu lebih untuk menyelamatkan tiketnya sendiri menghadapi Pilkada Jawa Timur 2024, karena melalui koalisi partai-partai pengusung Prabowo-Gibran, nasib pencalonan Khofifah bisa resmi sebagai kandidat dalam pilkada Jatim,” pungkas dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unej itu.
___FOTO:X (Twitter) @republikaonline





