Kedua, terkait dengan Mbah Hasyim, semasa kolonial Belanda Pesantren Tebuireng yang dirintisnya pernah sampai empat kali dibakar kolonial, buntut dari sikap tegasnya atas kebijakan mereka. Di antaranya terkait kebijakan tanam paksa, ordonansi guru, fatwa larangan haji, dan lain sebagainya.
Ketiga, ketika sore hari tanggal 7 Maret 1942 Lembang jatuh ke tangan Jepang. Jepang berhasil memaksa pasukan KNIL (Koninklijk Nederlandsch Indische Leger) di bawah komando Letjen Ter Poorten melakukan gencatan senjata. Kemudian Belanda meminta perundingan di Kalijati. Saat itu juga, Ter Poorten dan Tjarda secara resmi menandatangani dokumen kapitulasi atau penyerahan tanpa syarat Hindia Belanda kepada Jepang.
Selanjutnya tanggal 9 Maret 1942 Jepang mengumumkan akan menjadikan Indonesia saudara tuanya dan berjanji sesama Asia akan membantu memerdekakannya dari penjajahan kulit putih Eropa. Satu bulan kemudian, 9 Mei, Mbah Hasyim bersedia menjadi mufti (Shumubu) 1942.
Orang banyak bertanya, bahkan elite nasionalis saat itu banyak menyayangkan sikapnya dan mengkritik keras keputusan ini, tetapi Mbah Hasyim tetap tak bergeming untuk mundur. Bahkan, ia menunjuk putranya untuk menggantikan posisinya sebagai pelaksana. Namun belakangan baru diketahui bahwa sikap ini adalah strategi luar biasa bagi jalan menuju kemerdekaan.
Sejarah mencatat, Presiden Jepang pada 24 September 1942 secara resmi pernah berjanji akan memerdekakan bangsa Indonesia, tetapi janji tetap janji. Hal inilah yang dimanfaatkan Mbah Hasyim untuk terus konsolidasi dan menjalankan strateginya. Di antaranya dengan meminta Jepang untuk memberi pendidikan yang memadai pada pribumi dan memintanya untuk mengajari latihan militer.
Jepang tidak keberatan, karena mereka sudah mencium Belanda dan Sekutu akan kembali mengambil alih kekuasaan pada rencana agresi militer kedua. Jadi pelatihan militer pada pribumi akan menguntungkannya untuk menghadapi NICA. Tapi bagi Mbah Hasyim, pengetahuan dan pelatihan ini adalah langkah pertama untuk menggapai cita-cita kemerdekaan. Sebab baginya, jika rakyat sudah terlatih, tidak ada sulitnya mengusir Jepang yang hanya segelintir itu.






1 Komentar
Komentar ditutup.