Ada hal-hal menarik yang disinggung para sejarawan itu terkait pergolakan kaum santri dalam pentas sejarah bangsa ini, terutama peran Mbah Hasyim terkait seputar Hari Santri 22 Oktober dan sekitarnya.
Pertama, terkait sejarah kaum santri dan umat Islam secara umum, pada 1512, ketika embrio NKRI masih bernama Kerajaan Demak, Pati Unus yang notabene santri didikan Walisongo dengan gagah berani memimpin 10.000 pasukan dalam 100 kapal untuk menyerbu Portugis di Malaka. Tujuannya sederhana, agar Portugis tidak lebih jauh masuk ke Nusantara dan mengancam kedaulatan.
Kemudian perlawanan Sultan Hasanuddin (Kerajaan Gowa Makassar, 1666–1669). Perang Kuning di Lasem–Pati–Jepara–Semarang dipimpin Kiai Ali Badawi (1772–1775). Perlawanan Kerajaan Pagaruyung Padang (Perang Padri) 1803–1838, Tuanku Imam Bonjol. Beriringan meletuslah perang akbar, pemberontakan Cirebon (1802–1818) yang dikomandani para santri. Nama-nama tokoh yang ada dalam arsip P.H. van der Kemp, di antaranya Bagus Serrit, Jabin, Neirem, dan Bagus Rangin adalah para santri, sebagaimana pula tertulis dalam Serat Candhini.
Selanjutnya pada 19 Juli 1825, Pangeran Diponegoro yang merupakan santri tarekat dari Tegalrejo, Yogyakarta mengobarkan Perang Jawa (Java Oorlog) hingga membuat Belanda mengalami kerugian 20 juta gulden dan nyaris bangkrut. Perang Jawa ini melibatkan ratusan ribu kiai, ulama, dan santri tidak hanya dari seantero Pulau Jawa, namun sampai Bugis, Sulawesi Selatan. Beberapa santri, murid, dan sahabat Diponegoro di antaranya adalah Kiai Abdul Jalal dan Kiai Mojo.
Kemudian Diponegoro takluk, salah satu komandannya Kiai Abdusalam lari ke Jombang mendirikan Pesantren Tambakberas. Kiai Nur Muhammad lari ke Widang mendirikan Pesantren Langitan. Murid Kiai Abdusalam, Kiai Mustafa mendirikan Pesantren Tarbiyyatut Thalabah Kranji Lamongan. Putranya, Kiai Muhtadi Sendangagung santri Kiai Hasyim Asy’ari jadi komandan laskar Pandu Wathon Muhammadiyah. Adiknya, Kiai Amin Musthafa juga santri Kiai Hasyim Asy’ari dipercaya komandan Hizbullah daerah Lamongan, Tuban, dan Gresik. Dalam dokumen van der Kemp tersebut selama satu abad (1800–1900) disebutkan terdapat 112 kali pemberontakan oleh kaum santri dan tarekat.






1 Komentar
Komentar ditutup.