Ma’ruf Amin menilai Muktamar Luar Biasa menjadi mekanisme konstitusional menyelesaikan konflik elit PBNU.
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Ma’ruf Amin menilai Muktamar Luar Biasa (MLB) sebagai jalan tengah terbaik untuk menyelesaikan konflik elit PBNU yang dipicu pemakzulan Ketua Umum Yahya Cholil Staquf oleh jajaran Syuriyah yang dipimpin Rais Aam K.H. Miftachul Akhyar.
Menurut Ma’ruf Amin, berdasarkan konstitusi NU, pelanggaran berat yang dilakukan mandataris Muktamar—baik Rais Aam maupun Ketua Umum—hanya dapat diadili melalui forum MLB, bukan rapat pleno Syuriyah.
“Apabila Rais Aam ataupun Ketua Umum menurut konstitusi itu dianggap orang melakukan pelanggaran berat terhadap Anggaran Dasar, maka dilakukan Muktamar Luar Biasa. Jadi yang bisa mengadili kedua orang ini, karena kedua orang ini mandataris Muktamar,” ujar Ma’ruf Amin dalam wawancara siniar YouTube Vibrasi bertajuk Jalan Tengah Kemelut di Nahdlatul Ulama?, dikutip Kamis (11/12/2025).
Pemakzulan Dinilai Langgar Konstitusi
Ma’ruf Amin menegaskan bahwa ketika persoalan sudah menyentuh pemakzulan pimpinan tertinggi, forum penyelesaiannya harus melalui MLB. Ia menilai langkah Syuriyah yang melakukan pemakzulan justru berpotensi melanggar konstitusi organisasi.
“Nah, ketika melampaui itu, kalau sudah masalah ke pemakzulan, itu forumnya adalah Muktamar Luar Biasa. Jadi itu keprihatinan. Mestinya Syuriyah itu mengawal konstitusi, justru melanggar konstitusi,” kata Wakil Presiden RI ke-13 tersebut.
Ia mengingatkan, tanpa penyelesaian melalui MLB atau Muktamar yang dijadwalkan pada 2026, konflik antara Gus Yahya dan jajaran Syuriyah berpotensi terus berlarut. Situasi ini, menurutnya, mencoreng martabat organisasi.
“Alangkah kita malunya NU sebagai organisasi ulama kok Rais Aam-nya diturunkan secara tidak hormat, dimakzulkan, Ketua Umum-nya dimakzulkan,” tandas Ma’ruf Amin.
Dorong Islah dan Soft Landing
Terkait alasan pemicu keputusan Syuriyah, Ma’ruf Amin mengaku tidak mengetahui secara rinci. Namun, ia menilai problem utama terletak pada tindakan pemakzulan Ketua Umum oleh Syuriyah.
“Pemicunya kita tidak begitu tahu versinya. Tapi yang justru terjadi kan sekarang adanya pemakzulan Ketua Umum oleh Syuriyah. Itu problem. Problem pertama itu problem organisatoris,” ujarnya.
Ma’ruf Amin mendorong penyelesaian konflik melalui mediasi, cooling down, dan MLB sebagai mekanisme konstitusional. Jika pergantian pimpinan tak terelakkan, ia meminta dilakukan secara terhormat atau soft landing, bukan melalui pemakzulan yang memalukan.
“Kita bicarakan secara jernih, kita bahas, supaya kalaupun turun, turunlah. Tapi secara terhormat. Jangan pakai pemakzulan seperti itu,” tegasnya.
Rais Aam NU ke-10 Masa Khidmah 2015–2018 itu juga mengingatkan agar NU menyelesaikan persoalannya secara internal dan tidak melibatkan pemerintah. Menurutnya, NU seharusnya menjadi jangkar negara, bukan beban negara.
Ma’ruf Amin menegaskan dirinya tidak memihak personal tertentu, melainkan berpihak pada prosedur organisasi dan martabat NU. Ia menekankan tidak memiliki ambisi jabatan karena telah memilih “jalan sunyi”.
“Untuk apa saya jadi Rais Aam? Saya sudah mundur dari Ketua Umum MUI. Saya sudah mundur dari Ketua Dewan Syuro PKB. Saya mau jalan yang sunyi,” ujarnya.
Ia berpesan kepada seluruh jemaah NU agar organisasi tidak menurunkan Rais Aam atau Ketua Umum dengan cara tidak terhormat. Menurutnya, penyelesaian konflik harus ditempuh melalui soft landingyang tidak menimbulkan perpecahan, permusuhan, atau pertengkaran internal.
“Yang itu saya kira tidak akan membawa manfaat dan maslahat,” tegas Ma’ruf Amin. ***





