JAKARTA– Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 2010-2021, KH. Said Aqil Siradj, berharap pemberian izin usaha pertambangan (IUP) untuk organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan di Indonesia bukan sekadar untuk basa-basi atau ‘cuci piring’.
Menurut Said Aqil, ormas-ormas keagamaan di Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, turut mengantarkan perkembangan Indonesia sejak sebelum kemerdekaannya hingga saat ini. Tetapi, “Mereka (ormas) ini sampai sekarang belum mendapatkan ghanimah atau berkah dari kemerdekaan ini. Kita selalu ibadah terus, selalu mengabdi terus, (tetapi) belum pernah mendapatkan ghanimah atau berkahnya,” kata Said Aqil dalam acara Tadarus Sejarah Islam dan Budaya Indonesia-Tiongkok di Jakarta, Selasa (2/7/2024).
Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) ini juga mengatakan pihaknya siap menjadi garda terdepan untuk mengawal kebijakan perizinan khusus pertambangan bagi ormas keagamanan. Sebab, menurutnya, sudah seharusnya dan menjadi keniscayaan bagi pemerintah untuk lebih memihak pada ormas-ormas pejuang dan pendiri Indonesia.
Sebagaimana rekognisi terhadap ormas-ormas yang tertuang dalam UU Ormas, kata Said Aqil, ormas Islam berdiri sejak sebelum kemerdekaan dan telah berjasa serta berkontribusi terhadap bangsa Indonesia. Karena itu, menurut dia, ormas-ormas tersebut harus mendapatkan perhatian serius oleh negara.
“Ada akidah, ada ibadah, yang penting lagi ghanimah (harta rampasan perang). Kita kadang akidah terus, enggak pernah ghanimah. Akhirnya direbut orang terus yang enggak pernah berjasa, berperang leluhurnya atau kelompoknya. Kita ghanimah-nya lolos terus,” kata dia.
Karena itu, Said Aqil menambahkan, cara pemerintah memberikan konsensi tambang disambut dengan baik oleh LPOI. Namun demikian, dia juga mendorong adanya pembentukan aturan yang memadai dalam perizinan tambang.
“Sangat baik, tetapi harus jelas undang-undangnya, aturannya, dan juga memberikan fasilitas kemudahan. Karena tambang merupakan kerja berat, kerja yang harus berpengalaman, dan lagi bukan hanya batubara nikel dan seterusnya,” katanya.





