Korban Tewas Lebih dari 1.600 Orang, Junta Myanmar Buka Pintu bagi Penyelamat Asing

Junta Myanmar membuka diri bagi tim penyelamat asing yang akan datang membantu proses evakuasi korban gempa. Foto:The Nation Thailand

Pesawat dari Rusia, Malaysia, dan Singapura berdatangan, membawa logistik dan tenaga penyelamat. ASEAN, blok kawasan yang kerap pasif dalam isu Myanmar, kali ini menyatakan siap membantu upaya pemulihan. Korea Selatan pun menyumbangkan bantuan senilai USD 2 juta melalui organisasi internasional.

Namun, bagi warga di daerah terdampak, bantuan masih terasa jauh. “Banyak yang terjebak, tapi tidak ada yang datang menolong,” kata seorang warga Mandalay yang enggan disebut namanya. “Tidak ada tenaga, tidak ada alat, tidak ada kendaraan.”

47 Pekerja Hilang

Di Bangkok, sekitar 1.000 kilometer dari episentrum, gempa juga menorehkan dampaknya. Sebuah gedung pencakar langit yang tengah dibangun runtuh, menewaskan sedikitnya sembilan orang. TTim penyelamat Thailand masih mencari 47 pekerja yang hilang, termasuk buruh asal Myanmar, Sabtu, 30 Maret 2025.

Bacaan Lainnya

Chanpen Kaewnoi, 39, bergegas ke lokasi pada Jumat sore setelah melihat laporan berita bahwa gedung yang sedang dibangun tempat ibu dan adik perempuannya bekerja telah runtuh.

“Saya menelepon saudara perempuan saya, tetapi tidak peduli berapa kali saya mencoba meneleponnya, tidak ada sambungan,” katanya setelah semalam tidak bisa tidur di lokasi kejadian.

“Saya ingin menunggu ibu dan saudara perempuan saya,” ujar Chanpen, yang juga seorang pekerja konstruksi. “Saya ingin melihat wajah mereka lagi.”

Di seluruh kota metropolitan yang luas, tempat gempa seperti itu jarang terjadi, mungkin ada hingga 5.000 bangunan yang rusak, termasuk menara hunian, kata Anek Siripanichgorn, anggota dewan Council of Engineers Thailand, yang membantu pemerintah kota.

“Kami menangani ratusan kasus,” katanya. “Jika kami melihat kasus yang berpotensi membahayakan, kami akan segera mengirim teknisi.”

Wakil Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, memastikan semua upaya dilakukan. “Kami masih berharap,” katanya, “kami bekerja tanpa henti.”***

Pos terkait