Ahli Geologi Sebut Gempa Myanmar Setara dengan 334 Ledakan Bom Atom

Gedung di Mandalay, Myanmar, hancur akibat gempa. | AFP/STR
“Kekuatan yang dilepaskan oleh gempa bumi semacam (yang terjadi di Myanmar) itu setara dengan sekitar 334 bom atom,” begitu kata ahli geologi Jess Phoenix tentang gempa 7,7 magnitudo yang mengguncang Myanmar pada Jumat, 28 Maret 2025 lalu.

Sebagaimana diketahui, saking dahsyatnya gempa Myanmar, dampaknya terasa sampai negara tetangga, Thailand, bahkan hingga Kamboja dan India yang agak jauh. Menyebabkan kepanikan di berbagai wilayah.

Sebagian besar kerusakan akibat gempa terjadi di ibu kota kuno Myanmar, Mandalay, yang berada di dekat episentrum di wilayah Sagaing.

Bangunan-bangunan runtuh, infrastruktur hancur, dan korban jiwa terus bertambah. Menurut laporan media pemerintah, 1.600 orang lebih tewas akibat bencana ini.

Bacaan Lainnya

Sedangkan menurut pakar tektonik dari Imperial College London, Rebecca Bell, gempa terjadi karena Myanmar berada di antara dua lempeng tektonik besar, yaitu Lempeng India dan Eurasia. Posisi geografis ini menjadikannya sangat rentan gempa bumi.

Batas antara kedua lempeng tersebut dinamakan Sesar Sagaing, yaitu sebuah patahan lurus sepanjang sekitar 1.200 km yang melintasi kota-kota besar di Myanmar seperti Mandalay dan Yangon.

Ketika lempeng-lempeng itu saling bersentuhan dan menempel, mereka membangun cadangan energi yang sangat besar, yang kemudian dilepaskan dalam gempa bumi ‘slip-strike’ yang dahsyat.

“Sifat lurus berarti gempa bumi dapat terjadi di area yang luas. Semakin besar area sesar yang bergeser, semakin besar gempa bumi,” ujarnya.

Sementara itu, menurut Seismolog dari Survei Geologi AS (USGS), Will Yeck, gempa bumi di Myanmar terjadi karena gesekan antara Lempeng India dan Eurasia, yang dikenal sebagai sesar geser.

Menurutnya Gempa susulan dapat terjadi akibat perubahan tekanan dari guncangan utama. Gempa bumi terjadi pada kedalaman yang relatif dangkal, hanya sekitar 10 km di bawah permukaan.

Ian Watkinson dari Royal Holloway, Universitas London, menyatakan bahwa gempa dangkal berpotensi menimbulkan banyak kerusakan karena energi seismiknya tidak banyak berkurang sebelum mencapai permukaan.

“Myanmar mengalami urbanisasi yang cepat, dengan ledakan pembangunan gedung-gedung tinggi berbahan beton bertulang. Tanpa regulasi bangunan yang ketat, bencana ini dapat menyebabkan kehancuran yang sebanding dengan gempa di Turki tahun 2023,” katanya.***

Pos terkait