Kementerian Kesehatan Iran merilis data terbaru korban jiwa sejak perang dengan Amerika Serikat dan Israel meletus pada 28 Februari 2026. Sebanyak 240 anak di bawah 18 tahun dilaporkan tewas, termasuk 13 balita.
Dalam pernyataan yang dirilis Selasa (17/3/2026), Kementerian Kesehatan Iran merinci bahwa korban tewas anak-anak tercatat hingga 15 Maret 2026. Dari jumlah tersebut, 13 anak berusia di bawah lima tahun.
Selain itu, sebanyak 1.275 anak di bawah 18 tahun mengalami luka-luka, termasuk 45 anak di bawah usia dua tahun.
Kementerian juga mencatat 226 korban tewas dan 3.002 korban luka adalah perempuan. Total, lebih dari 18.000 orang telah terluka akibat serangan “musuh agresor”. Sebanyak 18.254 korban luka telah dirawat dan dipulangkan, sementara 1.070 orang masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
“Sebanyak 735 operasi bedah telah dilakukan pada korban luka,” demikian pernyataan resmi Kemenkes Iran, sebagaimana dikutip dari Anadolu.
Eskalasi Perang dan Dampak Kemanusiaan
Konflik di kawasan meningkat tajam sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi basis aset militer AS. Serangan balasan ini menimbulkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur, sekaligus mengganggu pasar global dan penerbangan internasional.
Data korban jiwa anak-anak dan perempuan ini menjadi sorotan komunitas internasional, di tengah kekhawatiran akan memburuknya krisis kemanusiaan akibat perang yang telah memasuki pekan ketiga.***





