Mantan pengurus menilai KH Zulfa Mustofa memenuhi enam kualifikasi untuk menjadi Pjs Ketum PBNU.
Di tengah memanasnya friksi elite Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), mantan pengurus PBNU masa khidmah 2010–2015, KH Imam Jazuli atau Kiai Imjaz, menyebut KH Zulfa Mustofa sebagai figur yang paling layak ditunjuk sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Ketua Umum PBNU.
Menurutnya, Wakil Ketua Umum PBNU periode 2022–2027 itu memenuhi enam kualifikasi kepemimpinan yang dibutuhkan jika terjadi transisi organisasi.
AD/ART Jadi Acuan Jika Ketum Mundur
Kiai Imjaz mengatakan, jika Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf mundur atau diberhentikan melalui mekanisme organisasi, penunjukan Pjs akan mengacu pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU. Posisi Zulfa Mustofa sebagai salah satu Wakil Ketua Umum PBNU dinilai menempatkannya dalam struktur tertinggi yang sah.
“Artinya, cukup logis mengisi posisi sementara tersebut,” kata Kiai Imjaz, Sabtu (22/11/2025).
Menurutnya, penunjukan Pjs hanya berlaku sampai forum permanen, seperti Muktamar Luar Biasa atau Muktamar berikutnya, dapat digelar.
1. Rekam Jejak Organisasi yang Panjang
Kiai Imjaz menilai Zulfa Mustofa memiliki pengalaman organisasi lengkap. Ia pernah berkhidmat di GP Ansor, MUI DKI Jakarta, serta aktif di Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU sebelum ditarik ke Tanfidziyah.
Pengalaman tersebut dinilai memberi pemahaman komprehensif terhadap mekanisme organisasi NU.
2. Kapasitas Keilmuan yang Diakui
Zulfa Mustofa dikenal sebagai ahli Ushul Fiqh dan penyair Arab. Ia menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang Ilmu ‘Arudl dari UIN Sunan Ampel Surabaya dan berasal dari dzuriyah ulama besar Syekh Nawawi al-Bantani.
Keahliannya dalam istinbath al-ahkam diperoleh sejak belajar di Pesantren Mathali’ul Falah, Kajen (1990–1996).
Karya-karyanya seperti Diqqat al-Qannash (2020), al-Fatwa wa-ma Yanbaghi li al-Mutafaqqih Jahluhu (2020), serta Dlawabith Bahtsil Masa’il wa al-Ifta’ ‘inda Nahdlatil Ulama’ (2022) menjadi rujukan penting dalam kajian hukum Islam di lingkungan NU.
3. Moderat dan Menjaga NU dari Politik Praktis
Zulfa Mustofa, kata Kiai Imjaz, konsisten menegaskan NU tidak boleh ditarik ke politik praktis. Pesan itu pernah ia sampaikan dalam tausiyah di Pondok Pesantren Manba’ush Sholichin Al-Charomain, Palu, Sulawesi Tengah, pada Kamis, 10 September 2023.
“NU dan pesantren lebih besar daripada partai dan kepentingan politik apa pun,” ujarnya saat itu.
4. Kemampuan Komunikasi Publik
Sebagai narasumber di berbagai forum nasional, Zulfa Mustofa dinilai mampu menjelaskan visi NU secara jernih kepada publik. Kemampuan komunikasinya dianggap penting dalam masa transisi.
5. Menguasai Syair Arab
Banyak karya ilmiah Zulfa memuat syair Arab yang dinilai indah dan bernilai tinggi. Dalam Tuhfat al-Qashi wa al-Dani fi Tarjamat al-Syaikh Muhammad Nawawi ibn ‘Umar al-Bantani (2021), ia menyajikan syair-syair yang menggambarkan perjalanan intelektual Syekh Nawawi al-Bantani.
6. Figur Kompromi di Tengah Krisis
Menurut Kiai Imjaz, Zulfa Mustofa dikenal sebagai sosok yang mampu diterima berbagai faksi di internal NU. Sikap moderat dan latar keilmuan yang kuat membuatnya dipandang ideal untuk memimpin PBNU pada masa krisis menuju Muktamar Luar Biasa.
Berpotensi Jadi Kandidat Ketua Umum Definitif
Kiai Imjaz menilai, dengan modal sosial dan kapasitas tersebut, Zulfa Mustofa tidak hanya layak menjadi Pjs Ketum, tetapi juga berpeluang maju sebagai calon Ketua Umum definitif pada Muktamar NU ke-35.
“Potensi itu semakin kuat jika dalam masa jabatannya sebagai Pjs beliau mampu mengelola dinamika organisasi dan mengembalikan marwah PBNU sesuai khittah,” ujarnya.
Rumor Menguat, Tapi PBNU Tegaskan Gus Yahya Tetap Menjabat
Di media sosial beredar poster ucapan selamat untuk Zulfa Mustofa, namun pihaknya belum memberikan komentar.
Di sisi lain, PBNU memastikan kepemimpinan Yahya Cholil Staquf tetap berlanjut hingga akhir masa khidmat 2026. Kesepakatan itu muncul dalam silaturahim alim ulama di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Ahad (23/11/2025).
Sementara itu, para kiai sepuh berinisiatif mengadakan forum khusus di Pesantren Lirboyo, Kediri.***





