Pengamat menilai kisruh PBNU hanya pertarungan elite dan tidak berdampak pada warga NU akar rumput.
Gejolak di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dinilai hanya berada pada level elite organisasi. Pengamat politik Universitas Islam Syekh Yusuf (UNIS), Adib Miftahul, menyebut dinamika ini tidak memengaruhi warga NU di akar rumput maupun aktivitas struktur NU di daerah.
“Kisruh di PBNU ini tidak signifikan mempengaruhi akar rumput. Ini hanya pertarungan elite,” ujar Adib, dikutip dari RMOL, Senin (24/11/2025).
Keterlibatan PBNU dalam Politik Dinilai Picu Faksi
Adib menyebut perpecahan ini muncul akibat meningkatnya keterlibatan PBNU dalam panggung politik praktis. Kondisi itu menciptakan faksi internal, mirip dinamika yang terjadi di partai politik.
“Ini akumulasi PBNU yang terseret politik praktis sehingga banyak faksi berbeda. Ibarat partai politik, ada celah dan keinginan untuk berkuasa,” kata Adib.
Menurutnya, daya tawar PBNU saat ini justru lebih besar dibanding partai politik, terutama dalam memengaruhi publik dan mobilisasi suara. “PBNU malah lebih seksi daripada partai politik sebagai penggedor suara, peraup suara,” ujarnya.
Adib menegaskan desakan agar Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf mundur bukan intervensi pihak luar, melainkan “pertarungan faksi” dan “pertarungan elite” internal.
PCNU Tulungagung Pastikan Aktivitas Tetap Berjalan
Ketua PCNU Tulungagung, KH Bagus Ahmadi, memastikan kegiatan organisasi di tingkat cabang hingga ranting tetap berjalan normal. Ia meminta warga Nahdliyin tetap tenang sambil menunggu keputusan resmi dari PBNU.
Bagus mengatakan PCNU seluruh Indonesia menggelar rapat daring pada Ahad (23/11) yang diikuti Ketua Umum PBNU Gus Yahya. Dalam pertemuan itu, Gus Yahya menjelaskan perkembangan hasil Rapat Harian Syuriah PBNU pada 20 November 2025, yang meminta dirinya mundur dari jabatan ketua umum.
“Hingga kini kami belum menerima keputusan final. PCNU akan wait and see mengikuti dinamika yang berkembang,” ujar Bagus, Senin (24/11/2025).





