“Di Indonesia saya banyak menghadiri jamuan makan dan diperkenalkan pada berbagai macam jenis makanan yang belum pernah saya lihat. Saya tertarik pada suatu jenis buah yang disebut durian. Bijinya mirip buah kenari, yang mempunyai lapisan tebal dan ditutupi kulit berduri. Buahnya berwarna agak kuning. Ketika pertama kali dihidangkan buah durian, saya memperhatikan orang-orang Indonesia yang duduk mengelilingi saya semuanya tersenyum dan saling berbisik satu sama lain, seakan-akan bakal terjadi sesuatu yang lucu,” kisah Khrushchev.
“Sukarno mengambil sepotong buah durian dan memberikannya pada saya. Saya mencicipinya, dan mendadak terasa aroma busuk dan menjijikkan, serasa daging busuk. Tapi Sukarno memakannya dengan lahap, dan tidaklah sopan bagi saya kalau tidak mencobanya. Saya tidak mengatakan bahwa rasanya enak, tapi lumayan — selama Anda menutup hidung pada saat memakannya,” tulis Khrushchev.
“Saya bermaksud memberikan oleh-oleh buah yang beraroma aneh itu untuk para kamerad di Moskwa,” lanjutnya. “Kami baru saja membuka penerbangan rutin antara Moskwa — Jakarta. Oleh karena itu, saya meminta pengawal mengirimkan beberapa karton durian untuk seluruh anggota dan calon anggota Presidium (Uni Soviet). Karena pesawat kami terbang ke Moskwa melalui New Delhi dan Kabul, saya memerintahkan untuk mengirimkan beberapa karton untuk Nehru dan raja Afghanistan.”
Khrushchev sepertinya tidak ingin sendirian ‘tersiksa’ oleh durian. Ia mengirimkan beberapa karung durian untuk koleganya di Partai Komunis Soviet. Selain itu, dia juga mengirim durian untuk pemimpin negara-negara sekutu Soviet, seperti Raja Zahir Shah dari Afghanistan dan PM. Jawaharlal Nehru di India.
Dan saat bertemu Nehru dan Zahir Shah, setelag kunjungannya di Indonesia, Khrushchev menanyakan perihal ‘paket istimewa’ yang dikirimnya.
“Beberapa waktu kemudian, Nehru dan Pemimpin Afghanistan mengucapkan terima kasih pada saya, tapi mengatakan pada saya bahwa mereka terpaksa membuangnya karena buah tersebut sudah busuk,” kata Khrushchev.
Menurut Nehru dan Raja Zahir Shah, sebagaimana ditulis Khrushchev, bau durian sangat menyengat dan menjijikkan. Mereka menduga buah kiriman itu sudah busuk, dan membuangnya.
“Para kamerad saya di Presidium juga mengatakan hal yang sama. Saya tertawa dan mengatakan bahwa buah tersebut tidak busuk, memang aromanya demikian,” kata Khrushchev kepada Nehru dan Raja Zahir.
Ada-ada saja Pak Khruschev ini.





