Masalah lain datang dari sisi ekonomi. Setelah perang, inflasi melesat karena uang beredar terlalu banyak, sementara barang langka. Untuk menekan gejolak, Menteri Keuangan Sjafruddin Prawiranegara meluncurkan kebijakan “Gunting Sjafruddin” pada Maret 1950—memotong nilai uang separuh dan membekukan sebagian simpanan rakyat. Langkah keras ini memulihkan kepercayaan terhadap sistem keuangan.
Sejak itu, ORI perlahan ditarik dari peredaran, digantikan rupiah sebagai simbol ekonomi yang lebih stabil dan teratur.
Peralihan dari ORI ke rupiah bukan sekadar pergantian uang, tapi cermin perjalanan bangsa: dari semangat revolusi menuju kedewasaan ekonomi. ORI lahir dari doa dan keberanian, sementara rupiah lahir dari kebutuhan untuk menjaga nilai dan disiplin. Dua-duanya sama sakral—karena tanpa ORI, kita mungkin takkan punya rupiah yang hari ini kita pegang.
Selengkapnya baca di sini.





