Dalam mimpinya, Abu Yusuf melihat sahabatnya yang ahli puasa tersebut menunggang kuda hijau, berpakaian hijau, dengan sebuah bendera di tangannya. Di belakangnya ada seorang pemuda tampan yang berbau harum, diikuti oleh dua orang tua, kemudian satu orang tua dan satu pemuda lagi.
“Siapa mereka?” tanya Abu Yusuf dalam mimpi itu. “Pemuda tampan itu Nabi Muhammad SAW. Kedua orang tua itu, Abu Bakar dan Umar, sementara orang tua dan pemuda itu adalah Utsman dan Ali. Dan aku pemegang bendera di depan mereka,” jawab sahabatnya. “Hendak ke manakah mereka?” tanya Abu Yusuf lagi. “Mereka ingin meziarahiku,” sahabatnya menjelaskan.
Abu Yusuf kagum mendengarnya, “Bagaimana bisa kau mendapatkan kemuliaan ini?” “Aku memprioritaskan ridha Allah dibanding ridha diriku dan aku berpuasa pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah,” jawab sahabatnya. Abu Yusuf pun terbangun dari tidurnya dan sejak itu tidak pernah meninggalkan amalan puasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah hingga akhir hayatnya.
Anjuran untuk memperbanyak amal saleh pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah termaktub dalam beberapa hadits. Misalnya, hadits riwayat Ibnu ‘Abbas dalam Sunan At-Tirmidzi yang mengatakan, “Tiada ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti sepuluh hari ini (Dzulhijjah).”
Meskipun disebutkan “sepuluh hari”, puasa jika dimulai 1 Dzulhijjah cukup dijalankan sembilan hari karena tanggal 10 Dzulhijjah (juga hari tasyriq: 11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah hari yang terlarang untuk berpuasa.
Pendapat An-Nawawi yang dikutip Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan *ayyamul ‘asyr* (sepuluh hari) adalah sembilan hari sejak tanggal 1 Dzulhijjah. Wallahu a’lam.