Pesawat Tanker KC-135 AS Jatuh di Irak, Milisi Perlawanan Islam Klaim Menembak

Pesawat KC-135
Pesawat KC-135 milik AS jatuh di Irak Barat. Foto:SS Forbes via Vietnam VN
Pesawat Tanker Andalan Angkatan Udara AS

KC-135 Stratotanker merupakan pesawat pengisian bahan bakar di udara (aerial refueling) yang menjadi tulang punggung logistik Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF).

Pesawat ini memungkinkan pesawat tempur, pembom, maupun pesawat angkut terbang lebih jauh dan lebih lama tanpa harus mendarat untuk mengisi bahan bakar.

Sistem pengisian bahan bakar utamanya menggunakan pipa kaku yang disebut flying boom. Sistem ini dikendalikan operator yang berada di bagian belakang pesawat untuk menyalurkan bahan bakar ke pesawat penerima.

Bacaan Lainnya

Beberapa varian KC-135 juga dilengkapi sistem probe-and-drogue, yaitu selang fleksibel yang digunakan oleh sejumlah jenis pesawat militer.

Pesawat Veteran yang Masih Digunakan

KC-135 diproduksi oleh Boeing dan menggunakan empat mesin turbofan CFM International F108 (CFM56). Pesawat ini mampu membawa sekitar 90.700 kilogram bahan bakar dan memiliki kecepatan maksimum sekitar 933 kilometer per jam atau Mach 0,85.

Selain sebagai tanker udara, KC-135 juga dapat dikonfigurasi untuk membawa hingga 83 personel atau digunakan sebagai pesawat evakuasi medis.

Pesawat ini pertama kali masuk layanan pada 1957 dan merupakan turunan dari prototipe Boeing 367-80 yang juga menjadi dasar pesawat komersial Boeing 707.

Meski Angkatan Udara AS telah memperkenalkan tanker generasi baru KC-46 Pegasus, KC-135 diperkirakan masih akan tetap digunakan hingga dekade 2040-an setelah berbagai modernisasi mesin dan avionik.

Digunakan Sejumlah Negara

Selain Amerika Serikat, pesawat tanker KC-135 juga pernah dioperasikan oleh beberapa negara sekutu seperti Prancis, Turki, dan Chili.

Singapura sebelumnya juga menggunakan varian KC-135R sebelum menggantinya dengan Airbus A330 MRTT.

Peran pesawat tanker seperti KC-135 dinilai sangat vital dalam operasi militer modern karena memungkinkan pesawat tempur dan pembom menjalankan misi jarak jauh tanpa harus kembali ke pangkalan.

Tanpa kemampuan pengisian bahan bakar di udara, operasi udara lintas benua akan jauh lebih sulit dilakukan secara efisien. ***

Pos terkait