Jejak Uwi Pra-Padi: Umbi Neolitik yang Terpinggirkan dari Sejarah Pangan Nusantara

Uwi dalam lapisan waktu Nusantara: umbi purba yang dibudidayakan sejak neolitikum, jauh sebelum padi menjadi pusat pangan, kini tinggal jejak dalam tanah dan ingatan.
Uwi tercatat dibudidayakan sejak prasejarah, jauh sebelum padi dan jagung menjadi pangan utama.

Penelitian arkeologi dan etnobotani menempatkan uwi sebagai salah satu tanaman pangan tertua di Nusantara. Umbi ini dibudidayakan sejak masa prasejarah dan neolitik, mendahului padi, jagung, bahkan singkong dalam sejarah konsumsi.

Arkeolog Australia Peter Bellwood dalam Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia (2000) mencatat, pada periode neolitik sekitar 4.500–2.500 tahun lalu, masyarakat wilayah timur kepulauan Indonesia telah menanam uwi, selain sagu, sukun, dan pisang.

Kajian migrasi neolitik menunjukkan penyebaran uwi berkaitan dengan ekspansi penutur Austronesia pasca-2000 SM. Umbi yang adaptif dan tidak musiman ini menyebar melalui pembukaan hutan bertahap di kepulauan.

Bukti Mikrobotani di Situs Prasejarah

Analisis butir pati dari Situs Kendenglembu, Banyuwangi, mengungkap pemanfaatan uwi bersama cantel, ganyong, gadung, gembili, porang, ketela rambat, dan pisang klutuk.

Bacaan Lainnya

Penelitian Priyatno Hadi Sulistyarto dan Muasomah dari Departemen Arkeologi FIB UGM, dimuat di Naditira Widya Vol. 17 No. 2 (2017), menunjukkan tanaman tersebut dibawa komunitas Austronesia yang menetap karena ketersediaan air dan bahan alat.

Situs Kendenglembu bertanggal 600–500 cal BP. Pertanggalan lebih tua ditemukan di Situs Rejosari, sekitar 1.300–1.100 cal BP, memperkuat jejak panjang konsumsi umbi di Jawa.

Vegeculture dan Awal Pertanian Umbi

Peneliti Balai Arkeologi Medan Andri Restiyadi dalam Agrikultur dalam Arkeologi (2012) menyebut budidaya umbi di Jawa berlangsung sejak budaya gua dan ceruk peneduh.

Temuan sudip tulang, batu giling, dan alat gali dari Gua Lawa Sampung serta Gua Braholo menunjukkan masyarakat tidak hanya berburu, tetapi mengolah dan menanam umbi seperti uwi dan keladi.

Tekniknya sederhana. Umbi ditanam kembali di habitat alaminya untuk panen berikutnya. Pola ini dikenal sebagai vegeculture, sistem awal pertanian Asia Tenggara.

Uwi dalam Teks Klasik Jawa

Naskah Jawa Kuna mencatat uwi sebagai bagian lanskap pangan agraris. Kidung Harsawijaya 2.107a menyebut “kumbili, wuwi, dan petalasan” sebagai tanaman kebun.

Kitab Arjunawijaya dan Sutasoma membedakan sawah, tegal, dan kebun. Di tegal, uwi ditanam bersama talas, ketela, dan sayuran, berdampingan dengan padi gaga.

Serat Centhini (1802) merekam uwi sebagai pangan harian dan jamuan. Catatan perjalanan Seh Amongraga menyebut uwi hadir hampir di setiap persinggahan.

Pranatamangsa dan Tradisi Ngrowot

Dalam praktik Jawa, uwi ditanam mengikuti pranatamangsa. Hari Sabtu Wage atau Tumpak dipercaya paling subur untuk umbi-umbian seperti uwi, gadung, suweg, dan talas.

Konsumsi uwi terkait tradisi ngrowot, mengandalkan umbi sebagai sumber karbohidrat selain beras. Laku ini menekankan kesederhanaan dan kedaulatan pangan.

Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan UGM Prof. Murdijati Gardjito menyebut ngrowot sebagai bagian “teknologi alami” masyarakat Jawa kuno, bersama mutih dan ngalong.

Ingatan Lokal yang Bertahan

Di Gunungkidul, ingatan uwi hidup dalam cangkriman era 1970–1980-an: Wigotidhengkul—uwi ketigo mati rendheng thukul, menandai siklus mati saat kemarau dan tumbuh ketika hujan.

Wilayah ini masih menyimpan keragaman uwi: uwi beras, uwi ungu, uwi luyung, uwi ulo, hingga uwi hitam. Penanda bahwa sebelum beras menjadi pusat, uwi pernah menopang perut dan peradaban Jawa.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *