Lebih dari 37 juta pekerja Indonesia bekerja di atas jam wajar demi bertahan hidup.
Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistikmenunjukkan fenomena overwork kian masif di Indonesia.
Sebanyak 37.323.341 penduduk usia 15–65 tahun tercatat bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Mayoritas berasal dari kelompok usia produktif.
Kelompok usia 35–44 tahun menjadi penyumbang terbesar dengan 9,5 juta pekerja. Disusul kelompok usia 25–34 tahun sebanyak 8,71 juta orang, serta usia 45–54 tahun yang mencapai 8,38 juta pekerja dengan jam kerja sangat panjang.
Upah Rendah dan Pasar Kerja Rapuh
Peneliti Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Wisnu Setiadi Nugroho, menilai tekanan ekonomi bukan satu-satunya penyebab overwork.
Menurutnya, overwork merupakan akumulasi dari struktur pasar tenaga kerja yang rapuh, minimnya pekerjaan berkualitas, rendahnya upah layak, serta tingginya tingkat informalitas.
“Pertumbuhan jumlah pekerjaan memang besar, tetapi kualitas dan upahnya bermasalah,” ujar Wisnu, Selasa (20/1/2026).
Ia merujuk riset yang pernah dimuat di East Asia Forum, yang mencatat upah awal rata-rata pekerja Indonesia hanya sekitar Rp1,6 juta per bulan. Angka itu jauh di bawah kebutuhan hidup layak dan standar sektor formal.
Pekerjaan Ganda Jadi Jalan Bertahan
Pendapatan yang tidak mencukupi membuat banyak pekerja terpaksa mengambil pekerjaan tambahan. Strategi ini mencakup kerja ganda, memperpanjang jam kerja, hingga menggabungkan beberapa pekerjaan paruh waktu.
“Data BPS melalui Susenas menunjukkan lebih dari seperempat pekerja terlibat dalam multiple job-holding dengan tambahan jam kerja signifikan,” kata Wisnu.
Data BPS Februari 2025 juga mencatat sekitar 33,8 persen tenaga kerja bekerja kurang dari 35 jam per minggu. Jam kerja yang minim ini umumnya berbanding lurus dengan rendahnya pendapatan, sehingga mendorong pencarian pekerjaan tambahan kedua atau ketiga.
Produktivitas Tak Sejalan Jam Kerja
Wisnu menjelaskan, jam kerja panjang memang dapat meningkatkan output jangka pendek. Namun, produktivitas per jam tidak otomatis meningkat.
“Bukti empiris menunjukkan produktivitas per jam justru cenderung menurun seiring jam kerja yang terlalu panjang,” ujarnya.
Berbagai studi internasional menunjukkan produktivitas pekerja Indonesia per jam masih relatif rendah dibanding negara ASEAN lain, meski jam kerja melampaui standar 40 jam per minggu.
Kelelahan, penurunan konsentrasi, serta meningkatnya risiko kesehatan dan kecelakaan kerja menjadi faktor utama.





