Jejak Digital Dugaan Kedekatan Budi Arie dengan Tersangka Kasus Judi Online Ramai Dibahas Warganet

Budi Arie Setiadi semasa menjabat sebagai Menteri Kominfo. (komdigi.go.id)
Informasi yang berseliweran di linimasa media sosial (medsos), terutama X (Twitter) menyebut jika pengawai Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang terlibat kasus judi online (judol) disinyalir punya hubungan dengan mantan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi.

__________

Polda Metro Jaya belum mengungkap secara detail identitas pegawai Kementerian Komdigi yang terlibat judol, namun beberapa akun medsos memunculkan nama-nama yang mereka klaim sebagai orang Kementerian yang terlibat kasus tersebut.

Sebagaimana diketahui, dalam kasus ini polisi menyebut ada tiga orang pegawai Kementerian Komdigi yang jadi pengendali bisnis judol. Polisi menyebut ketiganya dengan inisial, yaitu AK, AJ dan A.

Bacaan Lainnya

Ketika polisi belum menyebut dengan jelas nama-nama itu, warganet telah mengulas nama-nama mereka di linimasa medsos. Tersangka AK, misalnya, menurut klaim warganet adalah akronim dari Adhi Kismanto.

Adhi Kismanto disebut warganet sebagai orang yang punya kewenangan memblokir situs judi online di Kominfo. Peran Adhi Kismanto versi warganet ini sama seperti peran AK yang dijelaskan Polda Metro Jaya.

Warganet juga menyebut Adhi Kismanto punya hubungan dekat dengan Budi Arie.

Menurut sebuah akun media sosial X dengan nama @Gank_Of_Petojo, Budi Arie pernah menghadiri pernikahan Adhi. Akun tersebut menilai kehadiran Budi sebagai bukti kedekatan mantan Menkominfo tersebut dengan Adhi—yang oleh warganet diyakini sebagai AK.

“Kawinan aja datang kok, enggak mungkin enggak kenal,” tulis @Gank_Of_Petojo, sebagaimana dipantau Samudra Fakta pada Rabu, 6 November 2024.

Akun tersebut juga mengunggah foto ketika Budi Arie menghadiri pernikahan Adhi. Munculnya foto tersebut di linimasa media sosial X membuat nama Budi Arie menduduki daftar trending topic di medsos milik Elon Musk itu.

Nama Budi diperbicangkan lebih dari ratusan ribu kali, hanya dalam tempo 24 jam.

Eks Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi (kanan) menghadiri pernikahan Adhi Kismanto alias AK (dua dari kiri), pegawai yang tak lolos seleksi pendukung tenaga teknis Kemenkominfo tapi punya kewenangan atur pemblokiran situs judi online (judol). (Foto: Akun @Gank_Of_Petojo).

Selain Adhi Kismanto, warganet juga menyinggung nama Zulkarnaen Apriliantony, yang menurut mereka biasa disapa Tony Tomang. Tony, menurut temuan warganet, adalah mantan Komisaris BUMN PT Hotel Indonesia Natour (HIN). Warganet menyebutnya sebagai orang dekat Budi Arie.

Zulkarnaen Apriliantony alias Tony Tomang yang ditangkap kemarin adalah orangnya Budi Arie,” tulis akun X @PartaiSocmed, Senin (4/11/2024).

Tony, menurut akun tersebut, juga memiliki jaringan cukup luas di kalangan pemerintahan.

Tony ini punya jaringan yang cukup luas di kalangan ring 1, punya kenalan banyak menteri termasuk ke Menkominfo Budi Arie.”

Mantan Komisaris PT Hotel Indonesia Natour (BUMN) Zulkarnaen Apriliantony. (Foto: Istimewa)

Menurut @PartaiSocmed, Tony lah yang memasukkan Adhi Kismanto—yang menurut akun ini juga sering dipanggil Fallen—ke Kominfo yang masih dipimpin oleh Budi Arie.

Tony disebut memasukkan Adhi ke Kominfo dengan cara mengenalkannya langsung kepada Budi Arie. Cara itu ditempuh karena Adhi tidak lulus tes jalur resmi. Polisi sendiri menyebut jika tersangka AK awalnya memang tidak lulus ujian, tetapi tetap diterima di Kominfo.

Salah satu cuitan akun X @PartaiSocmed tentang tersangka kasus judi online dari Kementerian Komdigi. (Tangkapan Layar X)

Karena Adhi punya keahlian di bidang IT, menurut @PartaiSocmed, dia pun ‘dipakai’ oleh Budi Arie untuk mengelola mesin atau software crawling web-web judi online di Kominfo.

Meskipun bukan ASN Kominfo, tapi karena dibawa oleh Tony, maka dia diberi kepercayaan oleh Budi Arie untuk mengelola mesin/software crawling web-web judi online di Kominfo,” demikian salah satu cuitan @PartaiSocmed.

Dan menurut akun tersebut, memang itulah tujuan Tony Tomang membawa Adhi ke Kominfo.

Akun @PartaiSocmed juga menyebut Adhi Kismanto bekerja dengan sejumlah ASN Kominfo saat itu untuk memastikan keamanan situs-situs judol. Mereka mendapatkan bayaran dari para bandar judol atas ‘jasa’ tersebut.

Akun @PartaiSocmed juga menyebut jika perekrutan ASN Kominfo yang diminta Adhi Kismanto itu atas persetujuan Menkominfo kala itu.

Tentu Adi Kismanto tidak bisa bermain sendiri, maka dia juga merekrut para ASN Kominfo untuk mengamankan situs-situs judi online milik bandar yang membayar agar tidak diblokir.”

Dan sebagian orang bawaan tentu dia tidak bisa melakukannya tanpa restu atasannya, sang menteri,” jelasnya lagi.

Untuk memuluskan upaya pembinaan ribuan situs judol itu, Adhi Kismanto dan ASN Kominfo yang dia rekrut berkantor di dua tempat. Selain di Kominfo, mereka menyewa sebuah ruko di bilangan Bekasi—yang baru saja digerebek oleh Polda Metro Jaya itu.

Dan menurut @PartaiSocmed, sewa ruko sebagai posko ini dibiayai Tony Tomang.

Masuknya Adhi Kismanto alias Fallen ke dalam sistem Kominfo, menurut @PartaiSocmed, membuat Tony Tomang bisa mengontrol hasil crawling situs judol—karena Adhi, orang bawaannya, punya kewenangan mengatur pemblokiran website judi online.

Adhi Kismanto disebut mengamankan ribuan situs judi online dengan cara menyortir kata kunci pencarian situs judi online.

Di sinilah letak bau amisnya. Sebab dengan begitu Adhi Kismanto inilah yang menjadi orang pertama yang bisa mengakses hasil crawling situs-situs dengan kata kunci tertentu (contoh: gacor, 88, dll) untuk selanjutnya diserahkan ke bagian lain untuk disortir,” terang akun itu.

Karena dia adalah pihak pertama yang menerima hasil crawling, maka Adi Kismanto bebas melakukan fraud,” lanjut akun tersebut.

Menurut akun tersebut, satu per satu situs-situs judi online pun ‘dibina’ kemudian ‘diamankan’. Dengan demikian, software yang dikendalikan Adhi Kismanto seolah-olah tak dapat terdeteksi oleh Kominfo kala itu.

Caranya dengan menyisihkan situs-situs judi online yang bekerja sama alias ‘dibina’ dari laporan, sehingga seolah tidak ada atau tidak ditemukan oleh mesin crawling,” terangnya lagi.***

Pos terkait