Teluk Aqaba — dengan kedalaman rata-rata 900 m, lebar ~25 km — dinilai terlalu dalam untuk skenario ini. Para peneliti mengarahkan kajian ke Teluk Suez yang hanya sedalam 20–30 m dengan dasar relatif datar.
Pada 1798, Napoleon Bonaparte menyeberangi Teluk Suez saat air surut bersama pasukan berkudanya. Air pasang tiba-tiba kembali dan nyaris menenggelamkan mereka — insiden serupa yang digambarkan menimpa pasukan Firaun.
Sekretaris Napoleon, Bourrienne, mencatat: “Laut Merah tidak lebih lebar dari 1.500 m dan selalu dapat diseberangi saat surut… saat pasang, air naik 5–6 kaki, dan bila angin kencang bisa 9–10 kaki.”
Dr. Bruce Parker, mantan kepala ilmuwan National Ocean Service NOAA, menulis di Wall Street Journal (Desember 2014): Musa memahami titik penyeberangan, langit malam, dan metode kuno prediksi pasang surut berdasarkan posisi bulan.
Sebaliknya, Firaun dan pasukannya hidup di tepi Sungai Nil yang terhubung Laut Mediterania — hampir tanpa pasang surut. Mereka kemungkinan tidak menyadari bahaya arus balik yang dapat datang secara tiba-tiba.
Carl Drews, yang juga penganut Lutheran, menegaskan: “Saya selalu percaya iman dan sains dapat berjalan beriringan. Sudah sepatutnya ilmuwan menelaah aspek alamiah dari kisah ini.”
Para ilmuwan menyimpulkan wind setdown dan pasang surut dapat menjelaskan bagaimana peristiwa itu terjadi secara fisik. Pertanyaan tentang mengapa kejadian berlangsung pada waktu yang tepat tetap menjadi wilayah keyakinan. ***





