Dia pun mencontohkan kondisi Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, yang menurut dia memiliki infrastruktur yang sangat terbatas dan membutuhkan bantuan pembiayaan. Maka dari itu, bantuan langsung dari pemerintah, kata Yahya, tidak akan memberikan solusi jangka panjang.
“Nah, kalau kita mengikuti afirmasi pemerintah yang langsung, itu nanti harus berhadapan dengan macam-macam parameter birokrasi yang pasti lama sekali. Undang-undangnya gimana, aturannya gimana, dan seterusnya,” katanya.
Maka dari itulah Yahya menilai PBNU membutuhkan pembiayaan yang berkelanjutan melalui pengelolaan tambang. PBNU, kata Yahya, bakal membuat perusahaan dengan unit usaha yang menghasilkan keuntungan untuk pembiayaan organisasi.
“Kami memang, seperti saya sampaikan tadi, sudah membuat ikhtiar-ikhtiar membuat perusahaan baru yang dijamin ini sungguh-sungguh. Nanti revenue-nya masuk ke organisasi, bukan kepada individu-individu. Sehingga, misalnya, kalau saya nanti selesai masa bakti saya ini tidak bisa saya bawa pulang perusahaannya itu tetap jadi miliknya NU,” ucap Gus Yahya.*





