Gus Ipul pastikan Muktamar NU 2026 bersih dari intervensi penguasa. Tiga tokoh besar mulai santer disebut sebagai calon Ketum.
Gelaran Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 pada Agustus 2026 mendatang dipastikan akan menjadi ajang demokrasi internal yang sehat. Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul, memberikan garansi penuh bahwa agenda suksesi kepemimpinan tertinggi di tubuh NU ini akan terbebas dari segala bentuk intervensi pihak penguasa.
Pernyataan tegas ini disampaikan Gus Ipul saat ditemui di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Jumat (8/5/2026), untuk menepis keraguan publik jelang perhelatan besar tersebut.
Jaminan Bersih dari Campur Tangan Istana
Gus Ipul sangat yakin bahwa proses pemilihan pucuk pimpinan PBNU akan berjalan mengalir sesuai mekanisme internal organisasi. Ia menegaskan bahwa pemerintah saat ini sangat menghormati kemandirian Nahdlatul Ulama.
”Saya pastikan tidak akan ada intervensi. Presiden sangat memahami peran strategis Nahdlatul Ulama. Jadi, saya percaya Pak Presiden akan menyerahkan sepenuhnya mekanisme pemilihan pimpinan kepada Muktamar,” tegas Menteri Sosial tersebut. Komitmen ini diharapkan membuat suasana akar rumput Nahdliyin tetap kondusif menjelang tahun krusial.
Tiga Tokoh Kuat Masuk Bursa Kepemimpinan
Meski Muktamar dipastikan berjalan independen, suhu kompetisi perlahan mulai menghangat. Gus Ipul membocorkan bahwa saat ini ada tiga nama besar yang dinilai sangat layak dan berpotensi memimpin PBNU periode berikutnya.
Tokoh-tokoh tersebut adalah Menteri Agama Nasaruddin Umar, petahana KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), dan mantan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj. Modal utama ketiga figur ini adalah pengalaman matang mereka yang sama-sama pernah menduduki posisi strategis sebagai Katib Aam.
”Semuanya sebenarnya punya potensi yang sama kuat. Pertanyaannya sekarang tinggal satu, apakah beliau-beliau ini berkenan maju atau tidak?” ujar Gus Ipul memancing rasa penasaran publik.
Gus Ipul Konsisten Menolak Maju
Di saat nama-nama besar mulai meramaikan bursa, Gus Ipul justru kembali menegaskan sikap politik pribadinya. Ia secara konsisten menepis desas-desus yang menyebut dirinya akan ikut mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU.
Ia merasa secara kapasitas dan kelayakan, dirinya belum memenuhi syarat untuk mengemban amanah tersebut. “Oh, saya enggak maju. Saya sudah sampaikan berulang-ulang, saya merasa tidak mencukupi syarat,” jelasnya merendah. Ia menambahkan, organisasi sebesar NU memiliki stok kader potensial yang melimpah sehingga tidak akan kekurangan sosok pemimpin ideal.
Mengebut Persiapan Tuan Rumah
Menuju puncak Muktamar pada 1-5 Agustus 2026, PBNU akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) pada bulan Juni untuk mematangkan gagasan organisasi.
Terkait penetapan tuan rumah, PBNU masih menimbang tawaran dari sejumlah daerah seperti NTB, Sumatera Barat, dan Jawa Timur. Keputusan ini akan segera diketok palu dalam waktu dekat dengan mempertimbangkan kesiapan akses serta sarana prasarana, mengingat waktu persiapan yang semakin sempit.
Komitmen PBNU untuk menggelar Muktamar yang bersih dari “cawe-cawe” penguasa menjadi angin segar bagi masa depan organisasi. Tanpa adanya tekanan eksternal, warga Nahdliyin kini bebas menimbang siapa di antara tokoh-tokoh besar tersebut yang paling layak menakhodai kapal besar Nahdlatul Ulama menghadapi tantangan global di masa depan. ***





