Gibran di Kota Bung Karno: Ziarah, Simbol, dan Kesunyian Politik

Ilustrasi oleh Sora-Samudrafakta
Di tanah sunyi Blitar, sejarah diam-diam mencatat langkah Gibran—bukan soal kunjungan, tapi soal ke mana arah kekuasaan hendak bertumbuh.

—Editorial

Orang boleh punya ingatan pendek, tetapi sejarah tidak. Ia mencatat, mengendapkan, lalu memunculkan ulang dalam wajah yang tak selalu sama, tetapi menyimpan aroma yang serupa.

Itulah yang saya rasakan saat membaca jadwal kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke Kota Blitar, Rabu, 18 Juni 2025. Dari jadwal yang beredar tidak ada agenda untuk nyekar ke Makam Bung Karno. Sesuatu jarang yang terjadi bila ada pejabat yang berkunjung ke Kota Blitar tanpa mampir nyekar ke makam Bung Karno.

Kota ini menyimpan nama besar, makam Bung Karno, dan kenangan akan Jokowi yang dulu, sepuluh tahun silam, datang membawa kaus, senyum, dan harapan.

Bacaan Lainnya

Tahun 2014, Joko Widodo—waktu itu masih calon presiden nomor urut dua—menyusuri pasar-pasar tradisional di Jember, menghadiri haul Bung Karno dan KH Hasyim Asy’ari di Malang, lalu berziarah ke pusara sang proklamator di Blitar.

Ia hadir bukan sekadar sebagai calon pemimpin, tapi seperti hendak menyambung diri dengan akar sejarah bangsa. Ia menyapa rakyat kecil, menyentuh harapan orang biasa, dan menghadirkan aura pemimpin yang tahu dari mana sejarah bangsa ini bertumbuh.

Sepuluh tahun kemudian, anaknya Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, datang sebagai Wakil Presiden. Sebuah fakta politik yang menggemparkan banyak orang: dari Wali Kota Solo, menjadi cawapres, dan kini duduk di istana.

Sebuah lompatan generasi dalam hitungan hari. Tapi Blitar menyambutnya dalam diam. Tak banyak gemuruh sejarah yang terbangkitkan. Kunjungannya awalnya hanya berisi kunjungan ke pasar, puskesmas, UMKM, hingga makan siang di warung ayam bakar Bu Mamik. Agenda yang sangat manajerial. Tak ada jadwal resmi untuk nyekar ke makam Bung Karno.

Saya sempat bertanya dalam hati: inikah pertanda bahwa trah kekuasaan telah berpindah? Dari darah Sukarno ke darah Jokowi? Dari Blitar ke Solo? Dari sejarah ke strategi?

Namun kemudian kabar datang begitu cepat: pada pagi hari yang sama, Gibran akhirnya menundukkan kepala di pusara Bung Karno. Ia datang bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Diam-diam, tanpa gegap gempita. Ziarah itu akhirnya dilakukan. Tapi heningnya terlalu dalam. Seperti sebuah kunjungan yang lebih patuh pada simbol ketimbang hasrat untuk menyambung sejarah.

Pos terkait