“Transformasi KA Matarmaja adalah bagaimana KAI menghadirkan layanan yang semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Dengan rangkaian Ekonomi New Generation, pelanggan dapat menikmati kenyamanan lebih, namun tetap dengan harga tiket yang ramah di kantong. Kami ingin memastikan perjalanan jauh Pasar Senen–Malang menjadi pengalaman yang menyenangkan, aman, dan berkesan bagi seluruh pelanggan,” tutup Anne.
Khawatir Tiket Naik
Namun, di balik euforia peremajaan gerbong, warganet justru ramai mempertanyakan soal tarif. Akun @dhipheee misalnya, langsung menanyakan apakah harga tiket masih sama atau ikut terkerek. KAI pun menjawab diplomatis. “Tarif tiket KA antarkota bersifat dinamis. Bisa berubah sewaktu-waktu menyesuaikan kelas, rute, dan tanggal perjalanan. Selama tidak melebihi tarif batas atas dan bawah yang telah ditetapkan,” tulis akun resmi @KAI121.
Jawaban itu tidak meredakan keresahan. Sejumlah netizen mengaku khawatir biaya perjalanan menjadi setara dengan bus kelas sleeper. “Oh no, pasti harganya ikut naik ya min? Padahal pilih kereta karena stasiunnya dekat. Kalau harganya mirip bus sleeper, mending pilih bus,” komentar akun @anaqbaiiiq.
Keluhan juga datang dari penumpang di luar Jawa. Seperti @Orcaa25 yang menyoroti layanan kereta di Sumatera Selatan yang masih menggunakan gerbong lawas sejak era 1960-an. “Upgradenya di Jawa terus. Sumatera Selatan kapan kebagian? Kursinya sudah tidak nyaman,” tulisnya.
Ada pula warganet yang meminta KAI tetap menyisakan opsi kursi tegak dengan harga ramah di kantong. “Sisakan yang kursi tegak. Yang penting terjangkau,” kata akun @ariepr7. Sementara akun @mas_bud12 menambahkan, “Terus Bengawan kapan???”
KAI sendiri belum merinci skema tarif pasca-upgrade. Namun, publik tampaknya sudah bersiap jika kenyamanan baru harus ditebus dengan kocek lebih dalam.***