Suasana Eropa makin membara. Suhu udara melonjak hingga 46°C di sejumlah kawasan membuat warga kelimpungan. Di Prancis, pemerintah tak tinggal diam. Mulai 1 Juli hingga 15 September, sistem pemantauan kesehatan nasional diaktifkan penuh.
_______
Targetnya jelas: melindungi warga dari ancaman gelombang panas yang makin intens, makin lama, dan makin mematikan. Sinyal bahaya dipasang. Tak hanya di layar prakiraan cuaca, tapi juga di ruang publik. Iklan layanan masyarakat tampil di televisi, radio, hingga media sosial. Pesannya tegas: “Semua orang bisa terdampak. Gelombang panas tidak pilih-pilih korban.”
Kementerian Kesehatan Prancis bersama badan cuaca Météo-France mengaktifkan Sacs (Système d’Alerte Canicule et Santé). Sistem ini memantau data kesehatan publik dan menyiapkan respons cepat bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, penyandang disabilitas, ibu hamil, hingga pekerja lapangan.
Suhu di Paris diprediksi tembus 40°C. Météo-France menetapkan peringatan merah untuk beberapa wilayah — level tertinggi dalam sistem peringatan cuaca, menandakan kondisi sangat berbahaya.
Pemerintah pun bergerak cepat. Kementerian Pendidikan menutup lebih dari 1.300 sekolah pada Selasa (1/7). Untuk mencegah kebakaran, otoritas di Indre, Prancis tengah, melarang aktivitas pertanian pada siang hari. Petani terpaksa memanen di malam hari.
Pakar lingkungan memperingatkan, kondisi ini bisa menjadi “normal baru”. “Panas bukan hanya ganggu aktivitas, tapi juga ancam nyawa dan ketahanan pangan,” ujar ilmuwan iklim Prancis.
Sementara itu, di Spanyol, suhu tertinggi tercatat 46°C di El Granado, wilayah selatan negeri Matador, Sabtu (29/6). Setidaknya, 118 peringatan panas diberlakukan. Seville jadi sorotan, dengan suhu siang lebih dari 40°C dan suhu malam tetap tinggi di angka 25°C. Dokter khawatir akan efek beban panas yang terus-menerus pada tubuh manusia.
Pemerintah Spanyol menyerukan kewaspadaan. “Ini berisiko tinggi bagi lansia, anak-anak, dan kelompok rentan lainnya,” ujar pejabat kesehatan setempat.





