Keikutsertaan Dharma Pongrekun dan Kun Wardhana dalam kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jakarta pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2024 sebagai calon independen menghadirkan fenomena baru dalam dunia persaingan politik-kekuasaan.
Tanpa dukungan satu partai politik pun, pasangan calon (paslon) ini masih bisa mendapatkan aliran dukungan yang bisa dikatakan lumayan.
Kompetitor Dharma- Kun di Pilgub Jakarta 2024 ini tidak main-main: Ridwan Kamil- Suswono yang didukung serombongan partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus, dan Pramono Anung-Rano Karno yang di-support penuh oleh salah satu partai besar di Indonesia, PDI Perjuangan.
Di tengah ‘gencetan’ dua raksasa paslon dengan mesin partainya itu, Dharma-Kun masih bisa ‘mencuri’ 10 persen suara dari total pemilih dalam Pilgub Jakarta—setidaknya menurut hasil hitung cepat berbagai lembaga survei.
Raihan yang tentunya bisa disebut luar biasa. Pasalnya, di beberapa daerah lain, banyak paslon yang didukung oleh parpol tetapi tidak mampu meraih dukungan hingga 10 persen.
”Ini membuka hasrat baru supaya rakyat jangan ragu-ragu, jangan takut untuk berjuang, dan bersuara, manakala ada hak-hak yang dikebiri,” tegas Dharma, saat jumpa pers di Posko Pemenangan Bale Gotong Royong, Jakarta Selatan, Rabu, 27 November 2024.
Ajak Warga Jakarta Berani Bersaing Politik
Berkaca dari hasil tersebut, Dharma pun mengajak warga Jakarta untuk berani bersaing secara politik, kendati tanpa dukungan partai politik.
Dharma juga mengajak warga untuk berjuang bersama.
“Mari sama-sama kita perjuangkan keadaan hari ini dan ke depan, kita berjuang terus sampai Tuhan memanggil kita,” kata dia.
“Kami hanya datang dari rakyat, berusaha untuk memperjuangkan dan mengubah fenomena, bahwa kontestasi bisa dilakukan walaupun tidak didukung oleh partai,” imbuhnya.
Bukan Kekalahan Tapi Sebuah Kemenangan
Keikutsrtaan Dharma-Kun dalam Pilgub DKI itu pun menarik perhatian warganet, terkhusus di media sosial X—sebelumnya bernama Twitter—usai dia membagikan cuitan rasa terima kasihnya kepada warga DKI Jakarta.
“Terima kasih 10 persen warga Jakarta yang telah memilih saya dan Kun Wardana pasangan Cagub Nomor Urut 2,” kata Dharma melalui akun X @pongrekundharma, yang diunggah pada Rabu, 27 November 2024.

Dharma menilai perolehan suara itu bukanlah sebuah kekalahan, melainkan sebuah kemenangan bagi warga Jakarta.
“Bagi kami (hasil) ini bukan kekalahan tapi sebuah kemenangan warga Jakarta yang ingin menjaga dan memberikan rasa aman bagi keluarga,” tegasnya.
Dia mengaku siap mengawal hasil resmi atau real count dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).
“Tetap kawal hingga hasil resmi real count KPU terbit,” tandasnya.
Unggahan itu pun telah ditonton oleh ratusan ribu pengguna dan menuai ragam reaksi dari warganet.
“Bapak independen saja 10 persen, apalagi kalau didukung partai, menang satu putaran pak,” ujar netizen dengan akun @cimilan_cipuluh.
“Saya adalah bagian dari 10 persen itu pak, dan saya juga sudah ikut cara bapak untuk mencoblos tapi kebablasan jadi coblos jidat (foto) Kun Wardana, pasti sekarang Pak Kun juga sedang pusing,” kata warganet lainnya, dengan akun @dimasmaas.
Ada juga warganet yang mengenang aksi kampanye Dharma-Kun sebelum ajang pencoblosan Pilkada 2024.
“Gokil, setiap kampanye lapangan yang datang hanya panitia. Tapi saat pencoblosan bisa dapat 10 persen,” komentar warganet dengan akun @jajatplus.
“Independen tanpa partai, tidak di-endorse tokoh partai terkenal, dana jauh di bawah kompetitor, berkompetisi di ibukota (DKI Jakarta),” sebut warganet lainnya, dengan akun @Clackson19.
Kenapa Publik Mendukung Dharma-Kun?
Menurut Pengamat politik dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Firman Noor, Dharma-Kun mampu meraih dukungan di luar prediksi karena ada kejenuhan dari para pemilih terhadap manuver partai politik.
“(Publik) sudah cukup muak dengan pertarungan politik standar,” ujar Firman kepada wartawan, dikutip Jumat, 8 November 2024.
Firman juga menyoroti adanya fenomena ‘keresahan’ di antara para pemilih terhadap elite-elite politik serta kejenuhan publik melihat pertarungan sengit antara PDI Perjuangan dan KIM Plus.
“Mereka mencari figur-figur yang terbebas dari pertarungan antara partai-partai itu,” ujar Firman.
“Manuver politik (Dharma-Kun) yang tidak bergantung pada elite politik atau endorsement [dukungan] siapa pun, itu justru menarik bagi mereka.”
Sedangkan Kennedy Muslim dari Indikator Politik menilai, ada semacam protest vote atau suara protes dari masyarakat Jakarta yang kemudian dialirkan kepada Dharma-Kun.
“Narasi yang dibawa Dharma-Kun adalah kandidat yang bukan didukung partai. Jadi, seperti ada narasi perlawanan terhadap elite,” ujarnya.***





