Barat “Mencuri” Sejarah Negeri Jajahan
Fenomena diskonektivitas dengan masa lalu bangsa-bangsa Asia dan Afrika tersebut berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di dunia Barat—yang mengeklaim diri mereka sebagai “penguasa peradaban”. Barat menjadi besar dan maju justru karena masih terkoneksi dan sangat menghormati leluhur bangsa-bangsa jajahan mereka.
Sebagaimana dipaparkan oleh Juri Lina, para elite Barat yang tergabung dalam tarekat-tarekat kebatinan modern, seperti Freemasonry, Rossicrusian, dan Illuminati, masih mengadopsi ajaran-ajaran kuno dari Kabbalah, Mesir Kuno, Hindu, Buddha, dan ajaran-ajaran kuno leluhur yang mereka dapatkan dari tanah jajahan mereka. Mereka juga masih mengamalkan ritual-ritual yang telah dikerjakan sejak masa lampau, agar tetap terkoneksi dengan leluhur.
Dari konektivitas dengan masa lalu itulah mereka mendapatkan ilham dan bimbingan untuk menguasa 99 persen masyarakat dunia, serta mengatur segala hal—mulai dari keuangan, politik, hingga pembagian sumber daya yang ada di bumi.
Sementara di Indonesia, sebagaimana disinggung Ahmad Baso dalam bukunya—yang memperkuat tesis Juri Lina—proses penghancuran ingatan dan pemutusan hubungan dengan sejarahnya telah berlangsung selama bertahun-tahun. Sejarah Indonesia yang asli telah banyak yang menghilang atau kabur.
Bukti-bukti historis penginggalan nenek moyang bangsa Indonesia banyak yang sengaja dihilangkan atau dihancurkan, hanya menyisakan reruntuhannya. Itupun hanya ada beberapa.
Sedangkan di Eropa, tempat di mana bangsa-bangsa kolonial berasal, kastil-kastil dan rumah-rumah penduduk sejak abad ke-5 Masehi pun masih ada. Mereka merawat masa lalunya.
Karya-karya intelektual yang membuktikan progresivitas pemikiran bangsa Nusantara di masa lalu—seperti Kitab Sutasoma dan Nagarakertagama yang lahir pada zaman Kerajaan Majapahit, maupun kitab-kitab penting terkait kehidupan lainnya yang lahir dari dunia sastra Nusantara—diboyong ke Belanda dan disimpan di Perpustakaan Leiden.
Orang Indonesia kesulitan mengaksesnya, alih-alih mempelajarinya. Hingga akhirnya lama-lama orang Indonesia lupa bahwa Nusantara masa lalu adalah bangsa yang cerdas dan besar.
Sementara itu, di sisi lain, kabarnya kitab Negarakertagama karya Empu Prapanca, yang berisi tentang berbagai risalah hukum, menjadi referensi utama Belanda dalam menyusun aturan-aturan hukumnya, hingga negara tersebut menjadi pusat Mahkamah Internasional di Den Haag.
Penghancuran ingatan dan sejarah, faktanya, lazim terjadi di negara-negara Asia dan Afrika. Tujuannya adalah untuk melemahkan kesadaran bangsa-bangsa jajahan terhadap megahnya peradaban pada masa lalu.
Ketika kebanggaan terhadap peradaban suatu bangsa sudah lemah, maka bangsa lain—terutama bangsa Barat—akan mudah menginvasi peradaban tersebut, lalu menguasainya dan mengambil alih seluruh sumber dayanya.




