Dosa Besar Snouck Hurgronje: Menghancurkan Keluhuran Islam Nusantara dan Membuka “Pintu” untuk Kaum Puritan

Snouck Hurgronje dinilai sebagai "intelektual yang mencerahkan" oleh sebagian orang Indonesia. Padahal, dia memiliki peran besar dalam mencerabut akar sejarah dan keluruhan bangsa Indonesia, terutama umat Islam. FOTO: ISTIMEWA

Di Aceh, Snouck menyamar sebagai ulama dengan nama muslim Abdul Gafar. Selama tinggal di tengah-tengah rakyat di Peukan Aceh, dia menjalin hubungan dengan tokoh adat serta para ulama. Dia menulis lebih dari 1.400 laporan tentang situasi di sekitarnya.

Setelah tujuh bulan di Aceh, Snouck jadi mengetahui masalah utama yang dihadapi Belanda. Menurut dia, kendati sultan berhasil ditundukkan, para kepala daerah tidak akan tunduk dan pengaruh para ulama terhadap rakyat sangat kuat. Itulah mengapa pertahanan rakyat Aceh sangat sulit untuk ditaklukkan, karena keyakinan agamanya sangat kuat.

Bacaan Lainnya

Pada 23 Mei 1892, Snouck Hurgronje menulis sebuah laporan kepada pemerintah Belanda yang diberi judul Atjeh Verslag. Laporan tersebut berisi temuannya selama menyamar dan beberapa cara menaklukkan Aceh.

Penemuan-penemuannya di Aceh itu kemudian dijadikan dasar oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk menyusun siasat perang yang baru, hingga akhirnya membuat Aceh yang sebelumnya sangat sulit ditaklukkan, jatuh ke tangan Belanda.

Kesultanan Aceh akhirnya takluk pada tahun 1903. Namun demikian, pemberontakan tidak selesai begitu saja. Sebab, seperti yang diungkapkan Snouck Hurgronje, rakyat justru semakin marah karena ditaklukkan dengan kekuatan senjata.

Secara umum, ada hal yang menarik yang ditemukan oleh Snouck Hurgronje terkait penyebaran Islam di Indonesia. Menurut dia, Islam di Nusantara itu sangat berbeda dengan Islam di Mekkah.

Islam di Nusantara, menurut temuan Snouck, disebarkan dengan jalan tassawuf dan masih kental dengan adat istiadat budaya setempat. Pola seperti ini sudah mengakar sejak era Kerajaan Hindu-Buddha para era pra-Islam.

Pola tersebut berbeda dengan Islam di Arab Saudi, yang identik dengan ajaran Salafi-Wahabi yang konservatif dan puritan.

Maka dari itu, untuk bisa menguasai Nusantara, Snouck menyarankan agar Pemerintah Hindia Belanda memecah belah umat Islam. Tujuannya agar perkembangan agama satu ini tak lebih dari sekedar agama ritual atau “agama masjid” saja.

Gagasan Snouck inilah yang memberikan “jalan segar” bagi kaum-kaum Islam konservatif dan puritan untuk masuk dan berkembang di Nusantara. Membuka pintu selebar-lebarnya bagi aliran khawarij dan Salafi Wahabi untuk berkembang di Nusantara.

Aliran-aliran ini terus-menerus mempropagandakan ajaran mereka yang sangat kaku, sehingga membuat level kesadaran beragama yang inklusif dan toleran masyarakat Muslim Nusantara—sebagaimana ajaran Majelis Wali Songo—semakin anjlok.

Bahkan, ada juga penganut aliran ini yang mempropagandakan bahwa Wali Songo adalah sosok fiktif.

Kaum puritan ini pula yang terus-menerus mempropagandakan bahwa budaya mengkoneksikan masyarakat Muslim ke leluhurnya—yang adat istiadatnya diturunkan oleh tradisi Kapitayan, Hindu, dan Buddha—harus dihapus karena dianggap sebagai ajaran sesat, bidah, atau syirik.

Masyarakat Muslim Nusantara pun kehilangan akarnya. Hingga akhirnya hanya menjadi semacam komunitas beragama yang rapuh dan terjajah.

Situasi inilah yang menjadi “warisan” Snouck Hurgronje—yang oleh sebagian orang Indonesia justru dianggap sebagai “intelektualitas yang memberikan sumbangan pemikiran yang sangat berharga”.■

BERBAGAI SUMBER

Pos terkait