Kegiatan ini diklaim tak hanya akan menciptakan kedekatan emosional antara siswa dan guru, tapi juga dapat menjadi media efektif untuk mengasah soft skill siswa, seperti komunikasi efektif, kerja sama tim, berpikir strategis, hingga perhitungan aritmatika sederhana yang sering muncul dalam permainan.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, dalam keterangan resminya, menyampaikan apresiasinya terhadap langkah progresif Moonton Games. Ia mengakui adanya persepsi negatif terhadap gim di tengah masyarakat harus mulai dikaji ulang.
“Selama ini kita hanya tahu main gim itu tidak mendidik dan bahkan tidak menghasilkan. Namun, melalui program ini, kami rasa dapat mendorong kualitas pendidikan tak hanya di Surabaya, tapi juga di Indonesia dan memberikan kesempatan generasi muda untuk berkarir di industri Esport ke depannya,” jelas Eri.
Kepala Bidang Pengembangan Ekosistem Gim Moonton Games Erina Tan menerangkan, gim yang dikelola dengan baik bisa menjadi jembatan anak-anak dalam mengenal teknologi, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah.
“Bahkan menyalurkan bakat mereka di bidang profesional yang selama ini belum banyak dikenali di dunia pendidikan formal,” terang Erina.
Lukman Hakim, Pakar IT Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, menyebut, mengangkat Mobile Legends sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, terutama di kota seperti Surabaya, perlu dilihat dari sudut pandang yang lebih kontekstual dan konstruktif.
Memang benar, kata Lukman, sejumlah penelitian mengaitkan permainan daring seperti Mobile Legends dengan potensi perilaku negatif seperti agresivitas, kecanduan, dan pengabaian waktu belajar. Namun, “Kita juga perlu mencermati bahwa potensi tersebut lebih banyak muncul ketika tidak ada pendampingan, edukasi, dan pengelolaan yang tepat dari pihak sekolah maupun orang tua,” katanya, dikutip dari UM Surabaya, Selasa, 20 Mei 2025. ***





