UGM dan Unair Kompak Dukung Uji Coba Vaksin TBC di Indonesia

Ilustrasi uji coba vaksin TBC. Foto:Sora ChatGPT
Dua perguruan tinggi ternama di Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Airlangga (Unair), menyatakan dukungan terhadap uji coba vaksin tuberkulosis (TBC) terbaru yang dikembangkan dengan pendanaan dari Bill & Melinda Gates Foundation. Narasi dukungan uji coba vaksin TBC diunggah pada website masing-masing pada Selasa, 20 Mei 2025, dengan waktu unggah yang nyaris berbarengan yakni antara pukul 10.00 — 12.00 WIB.

____________________

Uji coba vaksin ini menjadi sorotan publik, tak hanya karena menyangkut kesehatan masyarakat, tapi juga karena munculnya kekhawatiran soal keamanan dan etika.

Ahli epidemiologi dari Pusat Kedokteran Tropis UGM, dr Riris Andono Ahmad MPH PhD, mengatakan bahwa pro dan kontra yang berkembang di masyarakat adalah hal wajar. Bahkan menurutnya, perbedaan pendapat menunjukkan adanya perhatian luas terhadap vaksin ini.

Bacaan Lainnya

“Isu yang beredar soal masyarakat dijadikan ‘kelinci percobaan’ itu kurang tepat. Dalam uji klinis, tidak ada pemaksaan. Semua bersifat sukarela dan ada syarat ketat yang harus dipenuhi sebelum seseorang bisa berpartisipasi,” tegas Donnie, sapaan akrabnya, saat diwawancarai Selasa (20/5).

Ia menegaskan bahwa uji coba yang akan dilakukan ini merupakan fase ketiga, yang fokus pada efektivitas vaksin dalam mencegah TBC. Sementara soal keamanan, Donnie menyebut sudah diuji dalam dua fase sebelumnya. “Tanpa lolos aspek keamanan, tidak mungkin uji coba bisa dilanjutkan ke tahap ini,” imbuhnya.

Uji coba vaksin ini dilakukan di Indonesia, yang saat ini tercatat sebagai negara dengan beban TBC tertinggi kedua di dunia. Setiap tahun, terdapat lebih dari satu juta kasus TBC baru dan sekitar 130 ribu kematian.

“Dengan beban sebesar itu, kita tentu punya kepentingan besar untuk memastikan vaksin ini aman dan efektif bagi populasi Indonesia,” jelas Donnie.

Isu lain yang muncul di masyarakat adalah soal keberadaan vaksin BCG yang sudah diberikan pada anak-anak. Namun, menurut Donnie, vaksin BCG tidak memberikan perlindungan penuh.

“BCG hanya menurunkan keparahan penyakit pada anak-anak, bukan mencegah penularannya hingga dewasa. Maka kita perlu vaksin yang lebih baik,” katanya.

Pos terkait