Muhaimin Iskandar
Muhaimin Iskandar—yang akrab disapa Cak Imin—terpilih menjadi Ketua Umum PKB pada Muktamar II PKB, 16-19 April 2005 di Semarang, Jawa Tengah. Politikus kelahiran Jombang, 24 September 1966 ini masih memimpin PKB hingga sekarang.

Cak Imin—sebagaimana dua pendahulunya—juga mengalami goncangan konflik internal partai. Di awal Cak Imin menjabat sebagai Ketum PKB, sejumlah tokoh menyatakan memisahkan diri dan mendirikan PKB tandingan.
Muncul DPP PKB pimpinan Choirul Anam sebagai hasil Muktamar Surabaya. Namun, akhirnya, PKB Muhaimin Iskandar lah yang diakui oleh pemerintah.
Menjelang Pemilu 2009, PKB kembali dilanda konflik internal. Narasi media yang ramai berkembang kala itu menyebut jika Gus Dur, sebagai Ketua Dewan Syuro PKB, memecat Cak Imin dari jabatan ketua umum. Alasannya, Cak Imin dianggap bermanuver dengan bermain-main ke Istana atau mendekati pemerintahan SBY. Cak Imin rencananyadigantikan Ali Masykur Musa.
Namun, di tengah prosesnya, muncul banyak narasi yang saling bertentangan satu sama lain—baik dari kubu Ali Masykur maupun versi Cak Imin. Narasi yang berkembang secara massif saat itu—dan masih diyakini sebagian orang, terutama warga nahdliyin—Cak Imin melawan pemecatan tersebut.
Cak Imin dan para pendukungnya mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Di tengah proses hukumnya, kubu Gus Dur dan Kubu Cak Imin sama-sama menggelar Muktamar Luar Biasa (MLB).
Kubu Gus Dur menggelar MLB di Parung, Bogor, pada 30 April-1 Mei 2008. MLB itu memilih Ali Masykur Musa sebagai ketua umum. Sementara kubu Cak Imin menggelar MLB di Ancol, Jakarta, sehari setelah MLB Parung. MLB Ancol memutuskan Muhaimin Iskandar tetap sebagai Ketum PKB.
Cak Imin mendepak Yenny Wahid, putri Gus Dur, dari jabatan sekjen, dan digantikan oleh Lukman Edy. Posisi Gus Dur sebagai Ketua Dewan Syuro PKB juga digantikan oleh KH. Aziz Mansyur.
Di tengah konflik tersebut, MA, dalam putusan kasasi bernomor 441/kasus kasasi/Pdt/2008, memutuskan struktur kepengurusan PKB kembali ke hasil Muktamar Semarang 2005. Gus Dur tetap sebagai Ketua Umum Dewan Syura, dan Muhaimin Iskandar sebagai Ketua Umum Dewan Tanfidz.
Cak Imin akhirnya sah memimpin PKB. Dalam muktamar-muktamar selanjutnya, yakni 2010, 2014, dan terakhir 2019, Cak Imin kembali terpilih menjadi Ketua Umum PKB—masih dilingkupi narasi kudeta terhadap Gus Dur.
Namun, dia mengklarifikasi tuduhan tersebut secara terbuka dalam program Mata Najwa, yang diunggah pada Senin, 4 September 2023. Dalam konflik internal partainya, Cak Imin mengaku bahwa dirinya tidak mengkudeta, tetapi justru dialah yang dikudeta.
Terlepas dari versi siapa yang paling akurat, fakta sejarah memaparkan bahwa partai yang didirikan oleh para kiai nahdliyin ini tak pernah sepi dari konflik internal di sepanjang sejarah perjalanannya.
(Toni | Dirangkum dari berbagai sumber)





