Dialektika Bapak-Bapak Bangsa (2): Soedirman, Tan Malaka, dan Cita-cita Merdeka 100 Persen yang Belum Tercapai

Tan Malaka dan Jenderal Soedirman adalah dwitunggal versi non-kooperatif pada masa-masa awal Kemerdekaan Indonesia. Mereka ibarat antitesis dari dwitunggal Sukarno-Hatta atau Sjahrir–Amir Syarifudin yang memilih jalan diplomatis-kompromis.  

Hubungan Tan Malaka dengan Soedirman terjalin karena adanya persamaan pendapat dan ideologi. Mereka punya visi serupa: Indonesia harus merdeka 100 persen.

“Soedirman dan Tan Malaka menekankan pada perlawanan perjuangan ketimbang diplomasi. Ini yang membedakan keduanya dengan Bung Karno, Bung Hatta, dan Sjahrir. Perjuangan atau diplomasi adalah tema sentral kontroversi antara pemerintah dan oposisi di satu sisi, serta pemerintah dan militer di sisi lain,” tulis pengamat militer Salim Said dalam bukunya, Soeharto’s Armed Forces, Problems of Civil Military Relations in Indonesia.

Sedangkan Adam Malik, dalam buku Mengabdi Republik Jilid II: Angkatan 45, menyebut Tan Malaka dan Soedirman sebagai dwitunggal—sebagaimana dwitunggal Sukarno-Hatta atau Sjahrir-Amir. Adam menilai keduanya punya akar di kalangan pemuda radikal, anggota pasukan Pembela Tanah Air (PETA), dan bekas romusha.

Bacaan Lainnya
Api Semangat Purwokerto

Mantan Menteri Pendidikan RI sekaligus penulis buku Perkembangan Militer dalam Politik di Indonesia 1945 – 1966 (1982),Yahya Muhaimin, mencatat jika Soedirman bertemu Tan Malaka ketika dia menghadiri acara pertemuan politik yang diadakan Tan di Purwokerto, Jawa Tengah, pada 3 – 5 Januari 1946. Kehadiran Soedirman itu adalah bentuk simpati militer Indonesia terhadap gerakan Tan Malaka.

Tan Malaka, sebagai Ketua Umum Murba, mengumpulkan berbagai elemen politik di gedung Societeit atau Radio Republik Indonesia (RRI) Kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas—gedung yang juga berfungsi sebagai gedung pertemuan sekaligus bioskop. Ketika itu Murba masih berbentuk organisasi kemasyarakatan (ormas) yang bergerak di wilayah pergerakan rakyat jelata. Belum jadi partai politik.

Rapat digelar untuk mengkritisi upaya politik diplomasi dengan penjajah yang ditempuh oleh Pemerintah Indonesia yang dipimpin oleh Sukarno. Pertemuan tersebut melahirkan sebuah faksi oposisi yang berkomitmen untuk meraih kemerdekaan 100 persen, bernama Persatuan Perjuangan.

Kongres Purwokerto digelar tiga hari. Pada penampilan pertamanya di forum itu, sebagaimana dicatat oleh Harry A. Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia (2008), Tan mengemukakan bahwa dia “tidak akan pernah berunding dengan maling yang masuk rumahnya”.

“Kita sedang bikin sejarah. Sejarah itu baru permulaannya. Baru bab I. Bab II akan kita bikin. Bisa kita tulis dengan warna merah atau putih. Kita mesti punya organisasi yang teguh. Kalau ini semua (organisasi yang kuat—red) ada pada kita, kita yang bikin sejarah. Kalau tidak, sejarah yang akan  bikin kita. Akan dikembalikan kita ke dalam penjajahan, tegas Tan Malaka, sebagaimana direkam oleh koran Kedaulatan Rakyat edisi 6 Januari 1946.

Pidato Tan Malaka itu, sebagaimana dicatat Poeze, membuat Soedirman kagum. Soedirman, menurut Poeze, sepakat dengan program Persatuan Perjuangan yang digagas Tan Malaka. Soedirman juga menjadi salah satu orang yang sering berdiskusi dengan Tan Malaka selama di Purwokerto.

Pos terkait