Sepeda Fongers dari keluarga Ning itu masih tertinggal di Bengkulu. Sepeda itu dipajang di rumah yang dulu ditempati Sukarno waktu dibuang di sana. Untuk mengenang Sukarno yang dulu rajin bersepeda di sana.
“Waktu kami bersama berada di Bengkulu, sering kami berlomba naik sepeda,” aku Fatmawati, dalam Fatmawati Catatan Kecil Bersama Bung Karno.

Fatmawati tentu pernah bersepeda bersama Sukarno di Bengkulu sebelum menjadi suami-istri. Dia menjadi wanita kesekian yang pernah dibonceng Sukarno. Lalu, setelah meninggalkan Bengkulu, kemudian ditinggalkan Inggit Ganarsih, Fatmawati kemudian menyusul Sukarno ke Jakarta, hingga akhirnya jadi suami istri.
Bersepeda tetap menjadi kesukaan Sukarno meski tak bisa dilakoninya dengan bebas setelah dia disibukkan oleh pekerjaannya sebagai penasihat militer Jepang—dan sejak 1945 menjadi Presiden Republik Indonesia. Karena itu, bukan hal aneh jika dalam kunjungannya Sukarno suka pinjam sepeda orang untuk dinaikinya.
Dalam kunjungan kenegaraan kepada Perdana Menteri India Jawaharal Nehru, pada awal 1950, Sukarno berkesempatan ke Agra, tempat Taj Mahal berada. Ketika ban mobil kempes, Sukarno tak buang waktu dengan diam. Dia meminjam sepeda seorang petani India yang tak jauh dari mobil mogok itu.
Dengan sepeda itu pula Sukarno menyempatkan diri membonceng Fatmawati yang sudah menjadi ibu negara. Di situ Sukarno juga menunjukan keterampilan bersepedanya. Di usia yang hampir 50 tahun, Sukarno masih memiliki keseimbangan ketika beratraksi di atas sepeda.





