Dewan Perdamaian Gaza Dinilai Proyek Kolonial Berkedok Kemanusiaan

Presiden Prabowo menandatangani Board of Peace Charter pada Kamis, 22 Januari 2026, di Davos, Swiss. - Dok. Setkab RI

Dalam forum yang sama, menantu Trump, Jared Kushner, memaparkan rencana induk pembangunan Gaza berupa kota modern dengan menara apartemen dan promenade hijau di tepi laut. Ia mengklaim pembangunan kota tersebut bisa selesai dalam tiga tahun dengan investasi minimal 25 miliar dolar AS.

“Kejutannya, pengusaha real estate Israel, Yakir Gabay, disebut akan membantu proyek ini. Gabay adalah miliarder dengan imperium properti senilai sekitar 30 miliar euro di Eropa,” ungkap Dina.

Ia juga menyebut salah satu anggota Dewan Eksekutif BoP adalah Steve Witkoff, Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah yang dikenal sebagai pengembang real estate dan rekan dekat presiden AS.

Bacaan Lainnya
Genosida Belum Usai

Dina mengingatkan, BoP dibentuk di tengah genosida di Gaza yang belum berhenti. Dewan ini dipimpin Amerika Serikat, yang ia sebut sebagai pemasok senjata utama Israel sekaligus pelindung diplomatiknya di PBB.

“Lebih absurd lagi, Israel justru diundang sebagai anggota. Genosida yang telah membantai lebih dari 680 ribu warga Gaza—kematian langsung dan tidak langsung hingga April 2025—seolah dilupakan,” ujarnya.

Menurut Dina, Israel diperlakukan sebagai mitra, bukan sebagai pelaku kejahatan. Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti membentuk dewan penanggulangan banjir, tetapi diisi oleh pihak yang menyebabkan banjir itu sendiri.

Perdamaian Tanpa Keadilan

Dina menegaskan, jika dunia benar-benar mengharapkan kemerdekaan Palestina, seharusnya tidak banyak negara yang mendukung BoP. Ia menyebut proyek tersebut sebagai normalisasi genosida.

“Kita tentu ingin perang berhenti dan Gaza pulih. Tetapi kita juga harus jujur: perdamaian tanpa keadilan adalah dusta,” tegasnya.

Ia menilai, bagi Indonesia, sikap terhadap BoP menjadi ujian moral besar. Bangsa yang lahir dari perjuangan anti-kolonial seharusnya peka terhadap segala bentuk penjajahan, dalam rupa apa pun.

Kamp Konsentrasi Berkedok Kemanusiaan

Dina juga mengungkap laporan investigatif yang menyebut Israel, dengan dukungan penuh Amerika Serikat, tengah membangun pos militer permanen di Gaza, membuka jalur kendaraan tempur, meratakan wilayah Rafah, serta menyiapkan kawasan hunian paksa yang disebut “humanitarian city”.

Pos terkait