“Ini istilah manis untuk menutupi kenyataan bahwa kawasan itu tak lain dari kamp konsentrasi kecil di dalam kamp konsentrasi besar bernama Jalur Gaza,” kata Dina.
Ia mempertanyakan siapa yang kelak akan menempati hunian mewah hasil proyek tersebut. Menurutnya, warga Gaza yang telah dimiskinkan selama bertahun-tahun hanya akan menjadi tenaga kerja kasar di wilayah yang dibangun di atas penderitaan mereka.
Jika Dewan Perdamaian dibiarkan melenggang, Dina menilai perannya bukan menghentikan penjajahan, melainkan melegalkan penjajahan dalam format baru. Istilah “stabilisasi” dan rencana pembentukan Pasukan Stabilisasi Internasional di bawah komando militer AS justru dinilainya ditujukan untuk menekan perlawanan Palestina.
“Cacat paling fatal dari Dewan ini adalah Palestina tidak dihadirkan sebagai subjek. Gaza tidak memiliki representasi sah. Yang disiapkan justru komite teknokratik di bawah supervisi eksternal. Ini pola kolonial klasik,” tandasnya.
Dina memprediksi, proyek BoP hanya memiliki dua kemungkinan: gagal total karena minim dukungan internasional, atau berhasil membangun ulang Gaza secara fisik namun tetap dalam kondisi dijajah dan dikontrol.
“Keberhasilan semu itu tidak akan menghadirkan perdamaian sejati. Selama ketidakadilan berlangsung, perlawanan akan terus muncul,” pungkasnya. ***





