Dari Azoospermia ke Kehamilan: Ketika AI Membantu Seorang Wanita Hamil Setelah 18 Tahun Menanti

Ilustrasi teknologi AI untuk proses kehamilan. | FOTO: Prontoz.com

Kini, di usia 38 tahun dan setelah hampir dua dekade menunggu, Rosie sedang hamil lima bulan. “Saya masih bangun setiap pagi dan bertanya, apakah ini benar-benar terjadi?” ujarnya.

Jika semuanya berjalan lancar, bayi pertama Rosie dan suaminya akan lahir pada bulan Desember.

Namun, seperti halnya setiap terobosan medis, optimisme ini disambut dengan kehati-hatian. Robert Brannigan, presiden terpilih American Society for Reproductive Medicine, mengingatkan agar tidak buru-buru menyebutnya revolusi. 

Bacaan Lainnya

“Teknologinya menjanjikan, tapi kita masih perlu data jangka panjang sebelum mengadopsinya secara luas,” katanya.

Meski begitu, teknologi STAR hadir di tengah kekhawatiran global akan menurunnya kesuburan pria. Sebuah studi mencatat penurunan drastis—52,4 persen—jumlah sperma pria di Barat dalam rentang waktu 1973–2011. Para ilmuwan menduga gaya hidup modern, paparan polusi, dan kebiasaan duduk terlalu lama berperan besar.

Jadi, di tengah krisis kesuburan ini, keberhasilan Rosie bukan hanya kabar baik untuknya secara pribadi. Ini adalah harapan baru bagi jutaan pasangan lain yang selama ini hidup dalam bayang-bayang vonis kemandulan.

Dan, untuk pertama kalinya dalam sejarah, kita bisa berkata bahwa AI tidak hanya membantu manusia menciptakan mesin, tapi juga membantu manusia menciptakan manusia.***

Pos terkait