Cak Imin Tulis Buku tentang Kritik Pelaksanaan Haji Tahun Lalu, Baru Diluncurkan karena Tak Mau Dianggap Ingin Jadi Menag

Peluncuran buku "Blueprint Transformasi dan Revolusi Manajemen Haji di DPP PKB, Jakarta, Rabu, 19 Februari 2025. (Istimewa).
Ketua Umum PKB sekaligus Menko Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin baru meluncurkan buku kritik penyelenggaraan haji berjudul “Blueprint Transformasi dan Revolusi Manajemen Haji” pada Rabu, 19 Februari 2025.

Kata Cak Imin, buku itu sebenarnya sudah cukup lama rampung disusun dan dicetak, pada September 2024 lalu, ketika sedang ramai-ramai Panitia Khusus (Pansus) Penyelenggaraan Haji digeber menjelang akhir periode jabatan anggota DPR RI 2019-2024.

Tapi peluncurannya sengaja ‘diperlambat’ untuk menghindari kesan penulisnya kepingin jadi Menteri Agama.

“Ini buku lama. Lama itu, maksud saya, waktu saya jadi pengawas haji (pada tahun 2024). Tapi, saya enggak berani memunculkan, hanya bagi-bagi saja,” katanya, peluncuran bukunya itu di DPP PKB, Jakarta, Rabu, 19 Februari 2025.

Bacaan Lainnya

Dia mengaku tak mau meluncurkan buku itu ketika Pansus Haji masih ramai di ruang publik karena tidak mau dianggap punya ambisi ingin menjadi Menag.

“Waktu itu tidak saya munculkan karena saya khawatir dianggap kepengin jadi Menteri Agama,” ujarnya.

Cak Imin bahkan mengaku lupa kapan buku tersebut pertama kali diterbitkan. Dia mengaku makin emoh meluncurkan buku ketika itu setelah mendengar ucapan Kiai Imam Jazuli.

“Waktu itu Kiai Imam Jazuli yang memberi pengantar ini. ‘Harus segera launching. Segera launching. Siapa tahu jadi menteri agama’ (kata Kiai Imam Jazuli). Oh, tambah enggak mau saya kalau begitu,” ujarnya.

Kata Cak Imin, kritik terhadap penyelenggaraan haji dalam buku itu ditulis bukan agar dirinya menjadi Menag. Dia mengaku malu jika peluncuran buku itu dianggap ‘ada maunya’.

“Malu saya. Malu berarti saya ngeritik haji itu dalam rangka ‘ada maunya’. Itu saja, takutnya di situ,” tambahnya.

Namun demikian, menurut Cak Imin, revolusi penyelenggara haji harus dilakukan. Dan dalam peluncuran bukunya itu, dia sengaja mengenakan rompi pengawas haji tahun 2024.

“Tapi serius, revolusi itu harus dilakukan, mulai dari hilir sampai hulu, baru insya Allah kita akan menjadi penyelenggara haji terbaik yang kita harapkan. Saya kira itu. Ini buku tidak usah di-launching. Sudah lama, buku lama, ini panitia kok pakai nampan segala seolah-olah mau launching gitu. Ini buku lama, hanya catatan-catatan pengawas haji. Saya hari ini sengaja pakai rompi mengingatkan sebagai Pengawas Haji di tahun 2024,” tuturnya.

Untuk diketahui, tahun 2024 merupakan cermin suram bagi pengelolaan ibadah haji Indonesia. Sengkarut yang terjadi dalam momen itu tak  hanya mencoreng reputasi pemerintah, tetapi juga mengancam kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan haji yang selama ini dianggap sakral.

Masalah demi masalah muncul dalam pelaksanaan kala itu, mulai dari alokasi kuota hingga dugaan jual-beli kuota, alokasi kuota tambahan.

Waktu itu Kemenag membagi kuota tersebut secara merata, antara haji reguler dan haji khusus. Berbagai keluhan mengenai infrastruktur pelayanan pun muncul, antara lain adanya keterlambatan transportasi, penginapan yang tidak sesuai janji, hingga buruknya manajemen logistik di Arab Saudi dan fasilitas kesehatan.

Perekrutan petugas haji yang dinilai tidak transparan juga menjadi persoalan lainnya. ***

Pos terkait