Sebagai seorang arsitek, Sukarno menikmati kunjungannya di Brasilia. Ia juga menikmati obrolannya dengan Kubitschek terkait program dan pengalamannya membangun ibukota baru itu. Proyek tersebut adalah pekerjaan yang tidak mudah sama sekali. Pemindahan ibukota negara, tentu, membutuhkan perencanaan yang teliti, biaya tinggi, dan langkah-langkah komprehensif, bahkan revolusioner.
Kota Brasilia akhirnya tumbuh pesat dan menjadi kota yang punya peran strategis: Menghubungkan seluruh wilayah Brasil serta mendorong pembangunan di berbagai wilayah yang sebelumnya tak berpenghuni. Pembangunan Brasilia juga berdampak pada pembangunan sejumlah jalan yang menghubungkannya dengan kota-kota lain. Jutaan tenaga kerja terserap dan terlibat langsung dalam prosesnya.
Kota Rio de Jeneiro, ‘mantan’ ibukota itu, dibangun pada tahun 1565 oleh Pemerintah Kolonial Portugis. Kota di wilayah pesisir ini kemudian menjadi pusat kota Pemerintahan Kolonial Portugis sejak tahun 1763.
Sebagai kota peninggalan pemerintah kolonial, Rio de Janeiro membawa berbagai masalah, utamanya soal tata letak kota. Kota ini semrawut karena dibangun tidak berdasarkan perencanaan jangka panjang. Dia dibikin tanpa mempertimbangkan perubahan demografi.
Kemacetan terjadi di mana-mana. Inefisiensi berlangsung dan menimbulkan ongkos sosial tinggi. Angka penganguran dan kriminalitas cukup tinggi. Buruknya sanitasi dan pengairan Rio de Janeiro jadi penyebab berjangkitnya berbagai penyakit, seperti malaria, yellow fever, dan berbagai penyakit menular lainnya. Penyebaran penyakit umumnya berlangsung di musim panas, yang menimbulkan banyak korban dan kerugian negara.
Pembangunan Kota Brasilia tak berjalan mulus. Kubitschek menghadapi banyak rintangan, salah satunya membengkaknya pengeluaran negara sehingga Brasil harus mengajukan pinjaman dari negara lain. Inflasi juga sempat terjadi. Kondisi ini menyebabkan oposisi menuduhnya salah mengatur ekonomi pemerintahan.
Motto atau semboyan “50 Tahun dalam 5 Tahun” dipelintir oleh kaum oposisi menjadi “50 Tahun Inflasi dalam 5 tahun”. Oposisi juga menuduhnya korupsi atau menggelembungkan dana pembangunan. Namun, seluruh tantangan tersebut dapat dibereskan Juscelino Kubitschek. Ia melunasi semua janji politiknya dan meninggalkan kursi kekuasaan dengan damai pada tahun 1961.
Brasilia awalnya hanyalah hutan belantara dan savana datar tak berpenghuni. Lokasinya di dataran tinggi bagian tengah Brasil. Pembangunan Brasilia berlangsung dari tahun 1957 hingga 1960, atau kurang lebih 41 bulan. Tepat tanggal 21 April 1960, Kota Brasilia rampung dan secara resmi dinyatakan sebagai Ibukota Brasil oleh Presiden Kubitschek.
Sukarno dan Juscelino Kubitschek, dalam pertemuan mereka, membicarakan upaya peningkatan kerja sama kedua negara. Indonesia dan Brasil menjalin hubungan diplomatik sejak tahun 1953. Namun, hubungan keduanya belum terjalin terlalu kuat. Indonesia dan Brasil sama-sama belum punya kantor perwakilan. Saat di Brasilia, Kubisak menyinggung Sukarno mengenai masalah itu. “Tuan Sukarno, kapan pemerintah Indonesia membangun kantor perwakilannya di negeri kami?” tanya Kubitschek.
“Segera, Tuan presiden,” jawab Sukarno.
Awal percakapan itu berlanjut pada kisah penentuan lokasi kantor perwakilan Indonesia di Brasilia, yang kemudian menjadi cerita turun-temurun yang cukup unik hingga kini. Sukarno dan Juscelino Kubitschek terbang dengan helikopter untuk melihat Kota Brasilia dari ketinggian.
“Tuan Presiden, silahkan Anda memilih lokasi tempat kedutaan Indonesia,” kata Juscelino Kubitschek.
“Baiklah,” kata Sukarno, sambil menimang-nimang tongkat komandonya. “Saya akan menjatuhkan tongkat saya ini ke daratan, dan di titik jatuhnya tongkat ini akan berdiri kantor perwakilan Indonesia,” kata Sukarno.
Tongkat itu akhirnya jatuh di wilayah Nações Quadra 805 Lote 20. Dan di atas tanah seluas 2,5 hektare tersebut berdiri Kedutaan Indonesia. Sukarno dan Kubitschek hadir dalam peletakan batu pertama pembangunannya.

Cerita penentuan lokasi Kedutaan Indonesia ini lestari jadi cerita dari mulut ke mulut, meski tidak ada catatan resminya. Sebagian mempercayainya, ada juga yang menganggapnya mitos. Terlepas dari itu, cerita tersebut masih hidup hingga sekarang, dan jadi penyedap hubungan kedua negara. Terlepas benar tidaknya cerita ini, Sukarno memang selalu menjadi sosok yang menyedot perhatian siapapun. Ia adalah legenda. Dan tidak mengherankan jika muncul banyak cerita unik tentang dirinya, termasuk seperti yang lestari di Brasil.





