Brasilia Menginspirasi Sukarno untuk Memindahkan Ibu Kota Negara

Sukarno mengagumi Brasilia sebagaimana ia kagum pada kota-kota besar dunia lainnya, seperti New York, Roma, Beograd, Moskow, dan Tokyo. Ia kagum karena Brasilia adalah kota baru, dibangun di atas lahan tak berpenghuni, tapi kemudian ‘disulap’ jadi sebuah kota moderen dengan model yang cantik. Pengerjaannya pun berlangsung cukup singkat, hanya 41 bulan.

Sukarno dalam pidato peringatan Ulang Tahun ke-435 Kota Jakarta, tanggal 22 Juni 1962, menceritakan kekagumannya terhadap Brasilia. Menurutnya, Indonesia dapat mencontoh Brasil tentang bagaimana perlunya memiliki visi jauh ke depan dalam pembangunan ibukota.

“Saya tadi berkata Brasilia, ibukota daripada Negara Brasil. Di tengah-tengah padang hutan. Negara Brasil adalah satu negara yang luas, rakyatnya lebih daripada enam puluh juta manusia. Tadinya kotanya adalah Rio de Janeiro, tetapi dianggap perlu memindahkan kota itu. Maka, meskipun di tengah-tengah Negeri Brasil itu hanyalah tanah kosong dan pepohonan saja, di situ didirikan satu kota yang megah, namanya Brasilia, dilukis, diproyek oleh arsitek termashur: Lee Mayer Paris,” kata Sukarno.

Bacaan Lainnya

Kota Brasilia mendatangkan inspirasi sekaligus tantangan bagi Sukarno. Sebagai seorang arsitek, Sukarno punya gagasan perlunya memindahkan ibukota dari Jakarta ke tempat lain yang lebih tepat dan representatif, sebagaimana Brasil memindahkan ibukotanya dari Rio de Janeiro ke Brasilia. Sukarno ingin memutus memori kolonial yang identik dengan Jakarta—atau Batavia di masa penjajahan Belanda.

Beberapa sumber menyebut Sukarno punya gagasan memindahkan ibukota ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Namun, gagasan ini tidak dapat diwujudkan mengingat Indonesia saat itu tengah dibelit masalah ekonomi, pada tahun 1959. Indonesia juga masih memprioritaskan perjuangan merebut kembali Irian Barat dari Belanda yang membutuhkan dana dan atensi yang besar.

(Wijdan | Diolah dari “Dunia dalam Genggaman Bung Karno 2”)

Pos terkait