Masyarakat diimbau untuk lebih waspada, terutama mereka yang tinggal di kawasan padat penduduk, daerah aliran sungai, atau lereng bukit. Saluran air perlu dibersihkan, pohon-pohon besar dipangkas, dan rumah diperiksa agar tidak bocor atau tergenang.
Wilayah Barat dan Timur Bergiliran Hadapi Puncak Hujan
BMKG memetakan puncak hujan di wilayah barat—termasuk Sumatera, Jawa bagian barat, dan sebagian Kalimantan—akan terjadi pada November hingga Desember 2025. Sementara itu, wilayah selatan dan timur seperti Jawa bagian timur, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua akan mengalami puncak hujan pada Januari hingga Februari 2026.
Menariknya, sebagian wilayah lain bahkan telah mengalami hujan deras sejak akhir Oktober, menandakan fase basah datang lebih awal dari perkiraan. Data jangka panjang sejak 1981 juga menunjukkan tren curah hujan harian yang semakin ekstrem, dengan intensitas yang lebih tinggi dari dekade-dekade sebelumnya.
Kesiapan Jadi Kunci
Musim hujan kali ini bukan sekadar soal cuaca yang berubah. Ia menuntut kesiapan kolektif. Pemerintah daerah bersama masyarakat diminta memperkuat sistem drainase, menyiapkan tempat evakuasi, serta memperbarui jalur darurat di kawasan rawan bencana.
Di tingkat rumah tangga, langkah-langkah kecil seperti memastikan atap tak bocor, talang air bersih, dan dokumen penting tersimpan di tempat aman dapat menjadi penentu keselamatan.
Karena pada akhirnya, musim hujan bukan hanya soal derasnya air yang turun dari langit, tapi juga seberapa siap kita menampung, menghadapinya, dan bertahan di tengah ketidakpastian cuaca yang makin sulit ditebak.***





