Strategi ini justru mendorong konfrontasi militer dan pergantian rezim di berbagai negara Timur Tengah, termasuk Irak, Suriah, dan Iran.
Tiga dekade berlalu, dunia menyaksikan hasil tragis dari dokumen tersebut. Amerika Serikat membuang ribuan nyawa tentaranya di Irak dan Suriah. Sementara itu, Israel terus memprioritaskan keamanannya sendiri di atas pertumpahan darah dan anggaran militer Washington.
Pola ini kembali terulang di Gaza, di mana jeda kemanusiaan hanya dimanfaatkan oleh parlemen Israel untuk melegalkan aneksasi Tepi Barat.
Waktunya Mengevaluasi Ulang Kebijakan
Tragedi pribadi Kent merangkum betapa mahalnya harga dari hubungan yang tidak seimbang ini. Istrinya, Shannon Kent, tewas dalam peperangan yang menurut Kent lebih melayani kepentingan Israel daripada Amerika Serikat.
Metafora “parasit” mungkin terdengar sangat tajam, namun deskripsi ini menuntut publik untuk berpikir kritis. Ketika sebuah negara terus-menerus menyerap sumber daya sekutunya, menunggangi kebijakan luar negerinya, dan pada saat yang sama menghancurkan setiap peluang perdamaian demi ambisi teritorial, hubungan bilateral tersebut harus segera dievaluasi.
Jika kesaksian Joe Kent benar, maka rakyat Amerika—dan juga masyarakat global—berhak mengetahui mengapa stabilitas dunia terus dikorbankan demi melayani agenda ekspansionis satu negara.***





