Anita membeberkan alasannya:
- Tidak ada akuntabilitas atas dosa masa lalu meski banyak bicara soal rekonsiliasi.
- Banyak pelanggaran HAM, represi, dan korupsi di masa kekuasaan Orde Baru.
- Warisan otoritarianisme yang merusak institusi demokrasi dan masih terasa hingga kini.
“Kalau melihat tiga alasan itu, gelar yang cocok untuk Soeharto bukan pahlawan… tapi diktator,” kata Anita.
Fadli Zon Klaim Sebaliknya
Sebelumnya, Fadli Zon mengatakan bahwa kehadiran Sinta Nuriyah, Yenny, dan cucu-cucu Gus Dur dalam upacara di Istana adalah tanda bahwa keluarga Gus Dur “sangat senang dan apresiatif” terhadap seluruh penerima gelar pahlawan nasional, termasuk Soeharto.
“Saya kira itu sudah cukup menjelaskan,” kata Fadli kepada wartawan, Senin (10/11).
Namun pernyataan itu kini terbantahkan secara terbuka oleh keluarga Gus Dur sendiri.***





