Ali Shadmani Ternyata Masih Hidup: Iran Bantah Klaim Israel soal Kematian Komandan IRGC

Iran mengumumkan jika Komandan IRGC, Jenderal Ali Shadmani, masih hidup, setelah Israel mengklaim telah membunuhnya. | Tangkapan Layar Hindustan Times
Di tengah debu reruntuhan dan dentuman serangan udara, Iran bersuara: Jenderal Ali Shadmani masih hidup. Sebuah pesan bahwa semangat perlawanan belum padam, meski nyawa terus dipertaruhkan.

__________

Di tengah gejolak konflik yang belum menunjukkan tanda mereda, Iran menyampaikan pesan yang tegas dan simbolik: Ali Shadmani masih hidup. Klaim itu datang hanya dua hari setelah Israel menyatakan berhasil membunuh tokoh militer kunci tersebut dalam serangan udara presisi di Teheran.

Shadmani—yang baru beberapa hari sebelumnya ditunjuk sebagai komandan baru Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)—menjadi sorotan sejak Israel mengklaim menghantam markas IRGC dan mengakhiri hidupnya. Namun media Iran seperti Fars News dan Mehr News Agency, yang dekat dengan IRGC, membantah kabar itu.

Bacaan Lainnya

“Saya masih hidup dan siap mengorbankan diri saya,” demikian kutipan pernyataan yang dikaitkan dengan Shadmani, dilansir oleh Times of Israel. Laporan-laporan Iran menyebutkan bahwa Shadmani memang terluka parah dalam serangan tersebut, namun kini dalam kondisi stabil dan tengah menjalani perawatan. Media Tasnim News bahkan menyiarkan ucapan terima kasih dari Shadmani kepada tim medis yang menanganinya.

Kabar soal kematian Shadmani sempat mengguncang. Ia dikenal sebagai salah satu perwira kepercayaan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Serangan udara yang disebut menewaskannya dilakukan berdasarkan informasi dari Intelligence Branch milik Pasukan Pertahanan Israel (IDF)—salah satu unit intelijen paling rahasia Tel Aviv, yang kerap membidik tokoh militer senior Iran.

Shadmani bukan tokoh sembarangan. Penunjukannya menggantikan pendahulunya—yang juga tewas akibat serangan Israel pada 13 Juni—menandakan pentingnya posisi itu dalam struktur pertahanan Iran.

Sejak serangan balasan Israel dimulai pertengahan Juni, kedua negara terus terlibat dalam aksi saling serang. Israel berdalih serangannya menyasar infrastruktur militer Iran, termasuk program nuklir dan rudal balistik. Namun, laporan dari lapangan juga menunjukkan kerusakan hebat pada area permukiman sipil, menambah daftar panjang korban.

Pos terkait