Aktivis muda NU Jawa Timur Firman Syah Ali menegaskan warga NU harus bisa membedakan antara NU sebagai ormas dan PBNU sebagai pengurus. Ia mengajak nahdliyyin tetap istikamah mencintai NU meski ada polemik dugaan korupsi kuota haji.
__________
Polemik dugaan korupsi kuota haji 2023–2024 yang menyeret nama PBNU menuai tanggapan dari Firman Syah Ali, Panglima Nahdliyin Bergerak (NABRAK). Menurutnya, umat NU jangan sampai keliru mengidentikkan dugaan kasus tersebut dengan NU secara keseluruhan.
“NU adalah ormas penjaga gawang moral bangsa. Pengurus maupun anggota NU seharusnya memberi teladan moral terbaik, bukan sebaliknya. Kita harus menghindari perbuatan yang menabrak standar yuridis dan moral bangsa,” kata Firman, Selasa (16/9).
Firman juga meminta warganet bersikap adil. Ia mengingatkan, hingga kini belum ada tersangka yang ditetapkan KPK.
“Jangan keburu menghakimi. Warganet juga harus cerdas membedakan PBNU dan NU. Jumlah warga NU ada 159 juta jiwa, sedangkan pengurus PBNU hanya segelintir orang,” ujarnya.

Tokoh asal Pamekasan itu menegaskan, mayoritas warga NU hidup sederhana di desa-desa, berpegang pada ajaran moral kiai kampung.
“Muassis NU KH As’ad Syamsul Arifin pernah menekankan agar warga NU jangan mengikuti siapa pun, termasuk ketua NU atau dirinya sendiri, jika berlawanan dengan perjuangan NU,” tegas Firman.
Ia mengajak nahdliyyin tetap fokus mencintai NU. “Kalau ada pengurus yang terseret kasus korupsi, itu oknum. Mari kita rawat NU bersama,” tambahnya.
Firman berharap kasus ini segera terang benderang setelah KPK menetapkan tersangka. “Agar jelas siapa yang terlibat dan siapa yang tidak, sehingga NU tidak terus-terusan jadi korban perundungan,” katanya.
Keponakan Mahfud MD ini optimistis NU akan tetap terjaga. “NU adalah pewaris perjuangan Walisongo. Insya Allah NU dibersihkan dari tangan-tangan kotor. Siapa pun yang kontra produktif dengan NU, biasanya dieliminasi dari sejarah,” pungkasnya.***





