Setidaknya ada tiga kasus siswa keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di dua lokasi—di Sukoharjo, Jawa Tengah, dan Nunukan Selatan, Kalimantan Utara—pada masa awal pelaksanaan program. Pengamat mengingatkan jika kasus keracunan MBG ini bukan kejadian biasa.
Ketiga kasus itu terjadi di SMAN 2 dan SDN 03 Nunukan Selatan, Kalimantan Utara, serta SDN Dukuh 03 Sukoharjo, Jawa Tengah.
Ahil Gizi dari Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Lailatul Muniroh mengingatkan kejadian keracunan MBGv tidak boleh dianggap remeh.
“Ini adalah salah satu kejadian luar biasa,” katanya kepada media, Senin, 20 Januari 2025.
Menurut Laila, perlu evaluasi hingga investigasi terkait kejadian tersebut agar apa yang menjadi penyebab keracunan tersebut bisa diketahui dan diperbaiki ke depannya.
“Harus ada pemeriksaan sumber keracunannya itu dari mana. Dari pengadaan bahan mentahnya kah? Atau dari pengolahannya? Dari distribusinya? Itu perlu dilakukan penelusuran,” jelasnya.
Laila juga menilai perlu untuk memperketat Standard Operating Procedure (SOP) program MBG secara menyeluruh, mulai dari pengawasan, pengadaan bahan-bahan, pengolahan, penyimpanan, hingga penyajian kepada para siswa penerima program MBG.
Penelusuran harus dilakukan secara menyeluruh untuk mengetahui secara pasti apa sebenarnya yang menjadi penyebab keracunan—apakah hanya karena faktor tunggal, atau ada beberapa faktor yang menimbulkan adanya keracunan.
“Terus bagaimana juga dengan personelnya atau pengolahnya? Apakah sudah menerapkan personal hygiene atau belum? Kemudian dari sisi kesehatan personelnya sendiri,” ujarnya.
Hal tersebut, kata dia, sangat penting diperhatikan untuk memastikan ke depan tidak ada lagi keracunan yang menimpa anak-anak karena program MBG tersebut.
Apalagi, program MBG ini dilakukan secara berkelanjutan, dan diharapkan bisa menjadi jawaban atas masalah kurangnya gizi hingga mengentaskan angka stunting di daerah-daerah di Indonesia.





