Tokoh NU Kumpul di Sleman, Serukan Tabayun Kepemimpinan Organisasi

Pertemuan ulama dan warga NU bertajuk "Istighosah, Sholat Hajat & Halaqoh" ini berlangsung di Pondok Pesantren Tegalsari, Wedomartani, Sleman, Sabtu malam, 19 September 2026. (Istimewa) 

Sejumlah kiai dan tokoh Nahdlatul Ulama menggelar istigasah serta halaqah di Sleman. Mereka menyoroti dinamika kepemimpinan jamiyah dan mendesak klarifikasi atas dugaan politik uang dalam Muktamar.

Perumus hasil halaqah Nahdlatul Ulama (NU), Prof. Dr. Purwo Santoso, menyatakan sejumlah ulama menggelar pertemuan untuk membahas masa depan organisasi. Pertemuan bertajuk “Istighosah, Sholat Hajat & Halaqoh” ini berlangsung di Pondok Pesantren Tegalsari, Wedomartani, Sleman, Sabtu malam, 19 September 2026.

“Kegiatan ini didasari keprihatinan terhadap perjalanan organisasi NU, khususnya terkait dinamika kepemimpinan,” kata Purwo Santoso melalui rumusan hasil pertemuannya.

Acara tersebut diawali dengan Shalat Hajat dan pembacaan istigatsah dipimpin oleh KH. Prof. Asep Saefuddin Chalim. Sementara itu, KH Drs. Asyhari Abdullah Tamrin, M.Pd.I, Pengasuh Pondok Pesantren Tegalsari, dan KH Yasin Nawawi, Pengasuh Pondok Pesantren An Nur Ngrukem, Bantul, berhalangan hadir karena sakit.

Bacaan Lainnya

Pembacaan seruan Halaqah dibacakan oleh KH. Muh. Zuhri, intelektual muda NU Yogyakarta. Acara halaqah juga dihadiri oleh PWNU Muslimat dan PWNU Fatayat DI Yogyakarta.

Keprihatinan dan Tuntutan Tabayun

Ihwal dinamika kepemimpinan, forum memberikan perhatian khusus pada proses pemilihan dalam Muktamar NU. Para peserta mempertanyakan indikasi pengondisian atau praktik politik uang yang menyertai ajang tersebut.

Forum menyoroti peredaran informasi mengenai pemberian dana dalam jumlah besar kepada sejumlah pihak. Meski indikasi ini menjadi sorotan, forum menegaskan bahwa dugaan itu belum terverifikasi secara independen.

Selain itu, forum menuntut adanya proses klarifikasi atau tabayun yang proporsional demi menjunjung asas praduga tak bersalah. Atas dasar ikhtiar menjaga martabat ulama, mereka merilis permohonan khusus bagi kepengurusan yang ditetapkan melalui sistem Ahlul Halli wal Aqdi tersebut.

“Forum menyampaikan permohonan agar KH. Miftachul Akhyar mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dari jabatan Rais Aam,” demikian pernyataan resmi forum tersebut. Hal ini bertujuan membuka ruang dialog dan mengembalikan kepercayaan publik.

Seruan Spiritual Akar Rumput

Sebelumnya, forum mengingatkan bahwa penyelesaian persoalan kepemimpinan tidak boleh hanya mengandalkan perdebatan keorganisasian. Warga dan pengurus ranting NU didorong untuk terus menghidupkan tradisi jemaah serta istigasah di tingkat akar rumput.

Warga nahdliyin dianjurkan melaksanakan munajat setelah salat wajib untuk menjaga keberkahan organisasi. Amalan yang ditekankan adalah membaca Surah Al-Fatihah satu kali, serta Surah Al-Ikhlas dan Al-Fil masing-masing tiga kali.

Seruan yang dirilis forum ini dipastikan bukan untuk memecah belah organisasi, melainkan sebagai panggilan moral menjaga keutuhan NU. Pihak penyelenggara mengajak seluruh elemen mengedepankan persaudaraan dan penyelesaian damai.

“Kegelisahan ini adalah wujud panggilan hati untuk menempatkan ulama sebagai penjaga moral di abad kedua NU,” kata Purwo Santoso menegaskan.***

Pos terkait