Simak kisah KH Abdul Wahab Chasbullah, kiai visioner di balik mars “Ya Lal Wathon”. Film dokumenter terbarunya di Muktamar NU ke-35 mengungkap jejak perjuangannya memadukan Islam, jurnalistik, dan nasionalisme demi kemerdekaan bangsa.
Jauh sebelum proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, dari sebuah sudut pesantren di Jombang, bait-bait “Pusaka hati wahai tanah airku” telah lebih dulu menggetarkan dada para santri. Itulah embrio mars “Ya Lal Wathon”, sebuah gita pergerakan yang lahir dari lisan KH Abdul Wahab Chasbullah, kiai berpandangan melampaui zamannya. Kini, kobar semangat kiai yang akrab disapa Mbah Wahab itu kembali dihidupkan lewat layar perak, membawa kepingan memori masa lalu tepat ke tanah kelahirannya di Tambakberas.
Layar Perak di Tengah Muktamar
Peluncuran film dokumenter “KH Abdul Wahab Chasbullah: Sang Ulama Peradaban” menjadi salah satu magnet utama dalam gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Menonton Mbah Wahab di layar lebar bukanlah sekadar nostalgia sejarah. Karya ini diputar dengan tujuan spesifik: memompa kembali napas dan inspirasi kesejarahan bagi para peserta serta warga Nahdliyin untuk mengenang jasa sang wali peradaban.
Di tengah lautan muktamirin, film ini bakal mengembalikan ingatan publik pada dekade-dekade awal abad ke-20 yang bergejolak. Saat itu, bumiputra harus berhadapan dengan represi kolonial Hindia Belanda. Di masa-masa sulit itulah, Mbah Wahab hadir menawarkan jalan keluar yang elegan dan terstruktur.
Titik Temu Sorban dan Merah Putih
Narasi utama yang disorot tajam dalam dokumenter ini adalah kecerdasan Mbah Wahab meracik nasionalisme. Pada era di mana pergerakan kerap terbelah antara faksi agamis dan sekuler, Mbah Wahab justru membuktikan bahwa cinta tanah air dan ajaran Islam adalah dua entitas yang saling menguatkan.
Kiprahnya sebagai salah satu pendiri utama Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926 hanyalah puncak gunung es dari rentetan pergerakannya. Sebelum itu, ia memotori lahirnya berbagai institusi kebangkitan kaum muda. Melalui Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) dan organisasi pemuda yang kelak menjadi cikal bakal Ansor, Mbah Wahab menanamkan akar perlawanan yang berbasis pada penguatan intelektual dan solidaritas sosial, bukan sekadar angkat senjata.
Dakwah Melalui Tinta dan Nada
Satu sudut pandang yang membuat film ini terasa sangat relevan dengan zaman modern adalah pengungkapan sisi inovatif sang kiai. Mbah Wahab adalah anomali di kalangan ulama tradisionalis pada masanya. Ketika ulama lain masih berkutat pada metode dakwah mimbar, ia telah memahami kekuatan media massa. Ia memprakarsai penerbitan surat kabar Soeara Nahdlatul Oelama, menjadikannya sebagai mimbar cetak untuk menyebarkan gagasan kebangsaan sekaligus menangkal propaganda kolonial.
Gagasannya senantiasa dibalut dengan keluwesan budaya. Seperti halnya saat ia menggubah mars “Ya Lal Wathon” pada tahun 1934. Lagu tersebut tak ubahnya doktrin nasionalisme yang ditanamkan secara subliminal ke dalam benak para santri. Sebagaimana dicatat oleh berbagai sejarawan santri, bagi Mbah Wahab, mencintai bangsa dan mempertahankan kemerdekaan adalah bagian tak terpisahkan dari iman (Hubbul Wathon Minal Iman).
Melihat kembali jejak KH Abdul Wahab Chasbullah melalui medium sinema hari ini menyadarkan kita bahwa sejarah bukanlah artefak usang di dalam museum. Perjuangannya memadukan dakwah, jurnalistik, dan pembinaan kaum muda menunjukkan bahwa Mbah Wahab adalah seorang arsitek peradaban yang berpikir lintas generasi. Di tengah gempuran krisis identitas bangsa saat ini, nyala api yang diwariskan sang ulama dari Tambakberas seolah mengingatkan kembali; bahwa menjaga kemerdekaan sejatinya bermula dari keberanian mencerdaskan pikiran dan merawat cinta pada tanah air.***





