ISPA Melonjak 78 Persen di Kalimantan saat Asap Karhutla Kian Pekat

Ilustrasi lonjakan kasus ISPA di tengah kabut asap karhutla Kalimantan yang mendorong pengerahan 314 tenaga medis ke wilayah terdampak.

Dari 402 kasus menjadi 716 hanya dalam sepekan — begini potret krisis pernapasan yang kini melanda Kalimantan Tengah akibat kabut asap karhutla.

Udara di Kalimantan sedang tidak baik-baik saja. Kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA di Kalimantan Tengah melonjak 78,1 persen hanya dalam sepekan, dari 402 kasus menjadi 716 kasus.

Lonjakan itu bukan kejadian lokal semata. Secara nasional, Kementerian Kesehatan mencatat kasus ISPA menembus lebih dari 400 ribu per minggu sepanjang pekan ke-27 hingga ke-35 tahun ini — dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes, Aji Muhawarman, menyebut tren itu berbarengan dengan datangnya awal musim kemarau. “Memasuki awal musim kemarau tahun 2026, kasus ISPA menunjukkan tren peningkatan lebih dari 400 ribu kasus per minggu, dibandingkan dengan minggu yang sama pada tahun 2025,” katanya, 20 Agustus 2026.

Bacaan Lainnya

Asap Pekat, Titik Panas Menumpuk

Penyebabnya tak jauh dari langit yang menguning. Data BNPB berbasis satelit NOAA-20 mencatat 1.487 titik panas di seluruh Kalimantan hingga 20 Agustus 2026.

Kalimantan Tengah menyumbang 767 titik, disusul Kalimantan Barat dengan 560 — bersama keduanya menguasai hampir 90 persen dari seluruh titik panas di pulau itu. Kualitas udara di Pontianak pun anjlok ke kategori tidak sehat.

Di Kalimantan Barat sendiri, akumulasi kasus ISPA sejak Januari 2026 sudah menembus 151 ribu penderita — tumpukan bulan demi bulan sepanjang musim kemarau yang kian kering.

Asap itu juga melumpuhkan langit secara harfiah. Seluruh penerbangan di Bandara Singkawang dihentikan pada 21 Agustus akibat jarak pandang yang jatuh ke titik kritis, sementara rute ke Bandara Haji Muhammad Sidik di Muara Teweh batal dua hari berturut-turut.

Di tengah lonjakan itu, Kemenkes merespons dengan mengerahkan 314 tenaga medis — dokter, perawat, bidan, dan epidemiolog — ke tujuh provinsi terdampak karhutla: Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Kondisi darurat juga tergambar di Kotawaringin Barat, tempat pemerintah daerah memperpanjang status tanggap darurat karhutla hingga 4 September 2026, seiring luas lahan terbakar yang mencapai 859,49 hektare dari 189 kejadian.

Bupati Kotawaringin Barat, Nurhidayah, mengatakan ancaman kebakaran masih tinggi lantaran cuaca panas ekstrem belum juga mereda. “Ancaman karhutla dinilai masih tinggi. Cuaca panas ekstrem yang belum mereda membuat lahan dan vegetasi di sejumlah wilayah mudah terbakar,” ujarnya.

Lonjakan ISPA ini pun datang di saat sumber daya kesehatan nasional masih terkuras menangani dampak gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus lalu — dua krisis kesehatan yang kini berjalan beriringan, membagi tenaga dan logistik yang sama.

Belum ada kepastian kapan tren kenaikan kasus ini akan melandai, mengingat titik panas di Kalimantan masih berpotensi terus bertambah dalam beberapa hari ke depan.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan