Sedang Viral, Benarkah Matcha Baik Bagi Kesehatan Tubuh?

Matcha
Ilustrasi matcha. - Pixabay

Matcha sedang viral. Minuman hijau khas Jepang itu kini mudah ditemukan dalam berbagai menu, mulai dari matcha latte, es kopi matcha, dessert, hingga snack rasa matcha.

Di media sosial, matcha juga kerap dikaitkan dengan gaya hidup sehat dan estetik. Tidak heran jika minuman berbahan bubuk teh hijau ini semakin populer, terutama di kalangan anak muda.

Namun, di balik popularitas tersebut muncul pertanyaan: benarkah matcha lebih sehat, atau sekadar tren sesaat?

Jawabannya tidak sesederhana “iya” atau “tidak”. Matcha memang mengandung sejumlah senyawa bioaktif yang berpotensi memberikan manfaat bagi tubuh. Namun, manfaat tersebut bukan berarti matcha merupakan minuman ajaib. Cara konsumsi, jumlah yang diminum, serta tambahan gula dan bahan lain tetap perlu diperhatikan.

Bacaan Lainnya

Apa Itu Matcha?

Melansir laman EMC Healthcare, matcha merupakan bubuk teh hijau asal Jepang yang dibuat dari daun teh pilihan.

Berbeda dari teh hijau biasa, tanaman yang digunakan untuk matcha ditanam dengan teknik khusus. Tanaman teh dinaungi dari sinar matahari selama sekitar 20–30 hari sebelum dipanen. Proses tersebut memengaruhi kandungan senyawa dalam daun, termasuk klorofil, kafein, dan L-theanine.

Setelah dipanen, daun teh dikukus, dikeringkan, kemudian digiling hingga menjadi bubuk yang sangat halus.

Perbedaan penting lainnya terletak pada cara mengonsumsinya. Pada teh hijau biasa, daun diseduh dan ampasnya dibuang. Sementara pada matcha, bubuk daun ikut diminum sehingga tubuh menerima komponen daun secara keseluruhan.

Sejumlah penelitian memang menunjukkan matcha memiliki kandungan katekin, termasuk epigallocatechin gallate atau EGCG, serta L-theanine dan kafein. Namun, kadar senyawa tersebut dapat berbeda bergantung pada jenis matcha, proses produksi, dan cara penyajiannya.

1. Kaya Senyawa Antioksidan

Salah satu alasan matcha banyak dikaitkan dengan gaya hidup sehat adalah kandungan polifenol dan katekin, terutama EGCG.

Senyawa tersebut memiliki aktivitas antioksidan yang membantu melawan stres oksidatif dalam tubuh. Namun, keberadaan antioksidan tidak otomatis berarti matcha dapat mencegah atau mengobati berbagai penyakit.

Kajian ilmiah terbaru menunjukkan matcha memiliki potensi manfaat kesehatan, tetapi masih dibutuhkan penelitian klinis yang lebih kuat untuk memastikan dampaknya dalam jangka panjang pada manusia.

2. Bisa Membantu Fokus dan Konsentrasi

Matcha mengandung kafein dan L-theanine. Kombinasi kedua senyawa tersebut menjadi salah satu alasan matcha kerap dipilih sebagai alternatif kopi.

Kafein dapat membantu meningkatkan kewaspadaan, sedangkan L-theanine dikaitkan dengan efek yang lebih rileks. Sejumlah penelitian menunjukkan kombinasi kafein dan L-theanine berpotensi mendukung perhatian dan fungsi kognitif.

Meski demikian, respons setiap orang berbeda. Bagi sebagian orang, kandungan kafein dalam matcha justru dapat menyebabkan gelisah atau jantung berdebar jika dikonsumsi terlalu banyak.

3. Berpotensi Mendukung Metabolisme

Matcha juga sering muncul dalam berbagai program diet karena kandungan katekin dan kafeinnya.

Senyawa tersebut memang diteliti karena potensinya memengaruhi metabolisme dan berat badan. Namun, efeknya cenderung terbatas dan tidak bisa dijadikan alasan untuk menganggap matcha sebagai minuman pelangsing.

Badan kesehatan AS, NCCIH, menyebut katekin dan kafein dalam teh hijau dapat memberikan efek modest atau kecil terhadap berat badan. Hasilnya juga dapat berbeda tergantung komposisi produk dan aktivitas fisik seseorang.

Artinya, matcha tidak akan otomatis membuat berat badan turun tanpa pola makan seimbang, aktivitas fisik, dan tidur yang cukup.

4. Berpotensi Mendukung Kesehatan Jantung

Kandungan katekin dalam teh hijau juga banyak diteliti terkait kesehatan jantung dan kadar kolesterol.

NCCIH mencatat sejumlah penelitian menemukan konsumsi teh hijau dapat memberikan penurunan kecil terhadap kolesterol total dan LDL. Namun, hasil penelitian mengenai manfaat teh hijau terhadap berbagai penyakit masih belum sepenuhnya konsisten.

Karena itu, matcha lebih tepat dipandang sebagai bagian dari pola konsumsi yang sehat, bukan sebagai pengganti pengobatan atau pencegah penyakit jantung.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan